Ah, it’s time to relax. Lean back and and just enjoy the melodies. After all, music soothes even the savage beast.
Pindahan rumah koq ngga slesai-selesai. Jangan tanya stress nya kyk gimana. Sudah rambut rontok, ini, itu, *ngga kurus-kurus*, depresi, tulalit. Worse!
Gmana ya, ceritanya panjang, .. banyak kaitannya, susah dijelaskan. Ya intinya ribet. Sampai tugas kantor terbengkalai, sampai sehari-hariku ngga fokus untuk apapun. Wondering around ngga jelas. Tidur ngga nyenyak. Makan ngga nafsu. Dikejar kawos kawos. Barang kantor belum dipesan padahal sudah tenggat waktu. Minggu depan pun dikejar untuk ngeberesin proyek di Bali.
Pindahan terlama nih kyknya. Macem-macem deh alesannya.
Number 1 problem, barang menumpuk. Hal ini mengajarkan aku untuk tidak mudah membeli barang, dan tidak mudah menyimpan barang hanya karena sayang, kenangan, dll. Aarrgghhh.. Jangan juga membeli sesuatu yang mahal (misalnya tas, pakaian, sepatu) yang nanti rugi sendiri karena ngga tega untuk dihibahkan ke orang lain.
Jangan terlalu sayang sama barang (ini aku banget). Jangan berpikir sayang membuang barang hanya karena nanti akan dipakai. Pakaian yang sudah ketinggalan jaman setahun dua tahun apalagi bertahun-tahun, jelas harus di buang. Jadiin kain pel, kain lap, kalau memang sudah jelek dan berjamur. Hibahkan ke saudara (kalau ngga tega) atau yang membutuhkan kalau memang masih layak pakai.
Jangan beli pakaian apapun bermerk, apalagi yang sampai lebih dari sejuta (atau lebih dari 500.000 buat aku). Tidak ada pakaian yang worth seharga itu kecuali kamu punya rumah besar dan kaya abis. Jangan menumpuk sepatu karena masih bagus. Pakailah sering-sering sampai rusak, lalu beli lagi yang baru.
Sebenarnya itu semua preventif. Lain kasus denganku, yang harus menghabiskan barang-barang bawaan dari rumah mom.
Nomer 1 paling banyak, BUKU. Mending kalo buku bahasa indonesia masih bisa dijual, di sumbangkan ke perpus, dilego, dll. Nah, buku mom bahasa inggris semua. Mau ditaruh dimana coba? Rumahnya Cincha Lawrah? Hmm.. perpus di sekolah JIS mungkin ya?
Nomer 2, PAKAIAN. Tentu saja bukan pakaianku, karena pas mulai pindahan kemarin pakaianku dan adikku sudah berkurang cukup banyak. Beberapa diantaranya masih sangat bagus dan bermerk, lumayan untuk dijual ke butik second hand. Anybody knows?
Nomer 3, JUNK. Junk ini bisa beruba stationaries, produk produk Oriflame yg masih bagus, pernak pernik hiasan rumah (apapun itu bentuknya).
Rencananya mau buat Garage Sale. Akan kupilih satu-satu untuk menentukan harganya, langsung masuk keranjang bertuliskan Rp.1000, Rp.5000, Rp10.000, Rp.20.000, dan Rp. 50.000. Uang nya lumayan bisa untuk bulanan ku. Dibilang butuh duit, yah.. siapa yang menolak kalo dapat tambahan uang, hahaha.
Nantikan ya! Url barang-barang yang akan dijual sudah dibuat, di www.dagdigdug.com, tapi belum di-update.
————-
Demi mengikuti trend sesaat™, tidak tahan untuk tidak menampilkan buku baru berikut ini:

Slogan aku: RS memang gila hormat™
Aku rasa hari ini puncak dari kekesalanku masalah yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Aku mau ganti, SEMUANYA.
TEGA ngga aku meninggalkan ini semua? TEGA, kalo tujuanku jelas.
Di tengah2 sibuknya pindahan barang2 ke rmh kontrakan yg baru, ada berita menyedihkan dari tanteku. Keponakannya, Risma, yang menikah sama Ferry Maryadi, dikabarkan retak gara-gara orang ketiga. Orang ketiga itu adalah Deswita Maharani.
Risma yang secara orangnya masih muda (11 tahun sama Ferry) dan masih lugu, kesian banget deh. Mereka kenal di dunia artis (Risma pernah main di Pernikahan Dini bersama dengan Agnes Monica). Pas melamar Risma, Ferry sudah ditolak sama orang tua Risma. Mungkin berasa kali ya, attitude nya kurang bagus. Tapi Ferry sampe melamar kedua kalinya, orang tua Risma ngga enak.
Begitu sudah menikah, Risma diminta Ferry langsung mengandung. Saat melahirkan, Ferry melihat prosesinya, dan selama setahun setelah melahirkan Ferry ngga mau berhubungan sama Risma. Ngga jelas alasannya apa. Yah, gampang lah ditebak, Ferry-nya jelas tetep butuh menyalurkan hasrat, gituloh. Aneh.. si Ferry maunya apa sih?
Baru aja hari ini masuk di detikhot, Risma mergokin Ferry dan Deswita keluar dari hotel. Anak-anak Ngelenong Yuk cuman bisa bilang sabar ke Risma. Ferry dikenal matre dan memandang sebelah mata orang yang tidak punya duit. Sampai berita ini turun, Ferry sudah ngga berani memunculkan wajahnya ke keluarga besar Risma.
Kebetulan banget, Ceriwis edisi hari ini, adalah edisi terakhir. Mereka sudah mengudara selama 4 tahun. Pasangan Indy ‘Tendy’ Barends dan Indra Bekti beserta Simply Fresh Band memang paling lama. Olga Syahputra baru masuk setahun belakangan sudah bisa memperlihatkan kecocokannya bekerjasama dengan Duo Tendy dan Bekti.
Di episode Special Moment ini mereka memutar kembali episode-episode seperti 1001 Malam Show, Hari Kartini, Hari 17-an, sampai juga ngerjain Bekti dan Tendy, dan yang paling seru ngerjain Olga. Olga dimarahin sama pejabat, sama Dorce, sampe bengong, gara-gara banyolannya membuat orang tsb tersinggung. Tampangnya kesian banget.
Aku sedih banget Ceriwis berakhir.. sama sedihnya pas Indy dan Farhan brenti mengudara di Hard Rock
Sama sedihnya juga pas Melaney Ricardo dan Lusi atau Melaney Ricardo dan Iwet Ramadhan.
Ceriwis bener-bener menyegarkan, jauh lebih baik daripada Dorce Show yang ingin ikut-ikut seperti Oprah, tapi materinya ngga dibuat dengan serius. Aku paling sebel kalo Dorce motong dengan ke-sok-lucu-an, padahal host nya ingin menyampaikan informasi berharga buat pemirsa.
Aarrrggghhh…
Kebiasaan tidur terbalik kyk kalong memang menyebalkan. Kebiasaan ini mulai sejak sekitar SMP. Sebenernya sejak SD pun suka tiba-tiba kecepetan tidur jadi jam 4 sudah terbangun, atau ngga ngantuk-ngantuk sampe jam 2 pagi trus jam 6-7 susah banget bangun dan berangkan sekolah. Kalo dulu ngga bakal bisa bolos sekolah gara-gara ngantuk karena tanggung jawab *halah! padahal bilang aja males bolos karena takut ketinggalan catetan / tugas-tugas.. daripada ngerjain sendirian*.
Kebiasan ini mulai merajalela ketika kuliah. Ya mungkin beberapa kali bolos (tanpa masuk kuliah sama sekali) karena semalaman begadang dan siangnya malah tidur pulas, walopun tidak sering. Paling parah adalah ketika besoknya sidang, semalam suntuk bikin contekan untuk baca (mem-presentasikan) isi skripsi. Oh yeah, I don’t like to speech in front of class.
Alhasil, pagi-pagi harus disogok dengan segelas kopi susu. Tidak perlu kopi pahit tanpa gula.. plus susu pun sudah cukup bisa membuat mataku melek. Skripsi sukses (sukses menurutku lho ya..) ketika bagian pertanyaan dari dosen pembimbing dan dosen penguji, aku tidak panik dan menjawab dengan apa adanya (jujur dan terbuka).
Aku bayangkan, klo misalnya aku tidur yg cukup, kondisiku pasti normal.. yaitu.. grogi, panik, cemas, malu, gemetaran, dsb. Tapi gara-gara ngantuk sambil didopping kopi, ya jadinya begitu.. mreketenteng kalo kata anak-anak mah.
2 malam ini aku tidak tidur. Malam yg pertama adalah Minggu ke Senin, ngga bisa tidur karena pas wiken kelewatan jam tidurnya yg akhirnya malah terbalik (siang kebanyakan tidur, malamnya ngga ngantuk-ngantuk). Malam itu dihabiskan membaca Harry Potter #7. Malam kedua dihabiskan main Age Of Emipre #3 yg campaign sampai tamat.
Oke, itu berarti di hari Senin aku bolos kerja untuk tidur sesiangan. Tapi ngga bisa terus-terusan begini. Hari ini selasa dan aku harus masuk kerja. Bukan, bukan ada meeting atau apa, ya tanggung jawab aja. Rasanya kelewatan aja klo mau bolos sampai 2 hari. Toh bos ku mengerti ada yg namanya ‘hari malas’ untuk sesekali waktu, tapi ya bukan untuk 2 hari.
Pagi tadi, aku minum kopi susu. Kopi susu itu bukan minuman kebutuhan setiap hari atau karena suka rasanya. Bisa dibilang, aku bukan peminum kopi. Apalagi kopi pahit. Nenek dan kakek dari mom kebiasaan minum kopi sore-sore jam 4. Masaknya pun pakai semacam panci khusus kopi, dari besi, khas daerah sono deh pokoknya. Mom sendiri terbiasa minum double shot setiap pagi, kalau ngga bisa sakit kepala. Bokap pun terbiasa minum kopi tubruk / seduh (?!) untuk pagi dan sore, masing-masing segelas.
Efeknya? Dahsyat!!! Pokoknya pagi tadi kyk keranjingan kerjaan. Pas mandi pun mikirin kerjaan, pas nyetir nelp sana sini ttg kerjaan, ngecek ini ngecek itu. Tiba-tiba otak jadi giat bekerja dan berpikir.. buset deh. Apa ini artinya efek kopi benar-benar mantabh sampe harus menjadi kebiasaan tiap pagiku? Oh no!
Tapi bukan roomie yg ini. Tentu saja maksudnya adalah room-mate. Hitung-hitung buat bantu keuangan dan nemenin aku biar ngga kesepian.
Nomer satu, harus berjenis kelamin perempuan. Bukannya aku ngga mau, tapi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, ya maaf saja.
Lokasi rumah kontrakan yang aku inginkan masih belum fixed. Ada kandidat di Taman Rempoa Indah, Bintaro (dari sektor 3 sampai 9), Lebak Bulus, BSD (no way lah, *tendang BSD dari option*). Intinya sih kepengen yang melawan arah macet orang berangkat kantor (ketika aku berangkat kantor ke Pondok Indah), AMAN (karena yg tinggal cecewek), bebas banjir, rumah kecil tanpa furniture (karena aku mau bawa furniture) dengan 2 kamar tidur, kondisi bersih (tentu saja), bisa parkir mobil.
Daftar barang-barang yang mau dilelang masih belum fixed, jadi mohon sabar yah.
Tulisan ini dibuat karena sudah berhari-hari tidak bisa tidur nyenyak karena selalu kepikiran. Tidak perlu kuceritakan asal muasal masalah, yang penting dalam bulan Februari ini aku berkeinginan untuk keluar dari rumah yang sudah kutinggali dalam kurun waktu 5 tahunan ini.
Yup, pindah rumah.
Pilihan lokasi, bentuk rumah (atau kos) segalanya tergantung dengan banyaknya barang dan budget yang ada. Untuk itu, mari kita urutkan satu persatu.
Mungkin beberapa orang sudah tau kalo aku sudah tinggal sendiri sejak 2,5 tahun yang lalu. Tidak benar-benar sendirian sih, tapi ya aku tinggal tidak dengan orang tua, tidak dengan adikku. My mom hanya kadang-kadang saja datang ke Jakarta, itu pun maksimum 3 hari, dalam kurun waktu 3-6 bulan sekali. Aku tinggal dengan Mbak Susi dan keluarganya (suami dan 2 anak) yang sangat care terhadapku.
Barang-barang yang ada sangat banyak. Dari barang-barang junk di gudang (entah apa saja isinya), beberapa furniture yang ingin aku bawa. Barang elektronik aku tidak begitu inginkan, karena elektronik cepat berganti. Lebih baik cepat aku jual, uangnya kupakai untuk biaya pindahan. Tapi furniture nya cukup banyak yang ingin ku simpan dan kubawa dan kupakai suatu saat aku punya rumah sendiri dengan calon suamiku.
Barang elektronik yang ingin kujual seperti 1 set tv (lupa brapa inch, besar deh) beserta sound system merk Sony, 1 player DVD yg juga bisa record langsung ke DVD merk Phillips. AC ku tinggal. Kulkas ingin kujual jika memang ada harganya.
Nah, barang-barang ini yang bisa dikatakan berharga ingin kujual via apapun lah. Mungkin ada dari kalian yang tertarik, atau akan ku pasarkan via bekas.com.
Untuk furniture, akan kutitipkan dulu ke suatu tempat yang akupun belum tahu dimana. Mungkin dari kalian ada ide mau kutitipkan dimana. Gudang sewaan mungkin (pastinya ngga ada tikus lah.. kalo ngga, kasur ku bisa rusak deh). Untuk sementara aku akan tinggal di kosan supaya irit biaya.
Kosan sih pengennya buat tidur aja selama aku di Jakarta. Beberapa barang pribadi saja yang akan aku bawa, sisanya ya dititip bareng dengan furniture.
Ada kemungkinan juga kalau waktunya ada, mencari rumah kontrakan di daerah Bintaro yang cukup budget (yang kosong, tanpa furniture). Tidak perlu besar, yang penting muat menampung barang-barangku. Tidak banjir tentu saja.
Bagi siapa saja yang ingin membantu, niat, informasi, dan tenaga, aku sangat berterima kasih. Aku tidak mengharapkan bantuan uang koq.
Omong kosong semua tentang soulmate, once i thought. Kalau hati sedang berbunga-bunga, kita merayu dengan sebutan such as “you’re my soulmate” .. “kita kan soulmate”.
TV series favorit ku, The Simpsons, menceritakan pasangan Homer Simpsons dan Marge Bouvier. Sejak awal mereka kenal semasa SMA, Homer terkenal dengan murid bodoh dan terkesan gagal, sedangkan Marge menjadi murid cerdas dan top of the class. Dengan perbedaan yang mencolok itulah mereka ya koq akhirnya bisa menikah dan punya 3 anak. Apakah mereka soulmate?
Soulmate sendiri penjelasannya kadang rancu. Masyarakan umum mendeskripsikan dengan mudah bahwa soulmate adalah jodoh (memang jodoh dari sananya). Di wiki, soulmate dijelaskan sebagai made for eachother seperti halnya Adam dan Eve (ya iya lah, saat itu kan cuman ada mereka berdua – JK).
One could see another person they have never met in this lifetime and instantly hate or love them because of previous interaction(s) with the other in one or more previous lifetimes. The most popular use of this concept is the idea that devoted lovers may reincarnate together.
Tentu saja, kalau kamu percaya karma, kamu juga bisa percaya arti di atas.
Episode The Simpsons yang El Viaje Misterioso de Nuestro Jomer (The Mysterious Voyage of Homer) menceritakan bahwa Homer melakukan perbuatan yang Marge tidak suka, lalu berhalusinasi bahwa ia di datangi Coyote dan disuruh untuk mencari soulmate nya. Homer yakin sekali Marge adalah soulmate nya. Homer kembali ke rumah dan menemui Marge. Homer ketahuan bahwa melanggar janji, Marge jadi sangat marah. Marge malah membantah “Don’t soul mate me!“.
Homer pergi dengan kecewa dan berharap menemukan soulmatenya. Dia berjalan masih dalam setengah halusinasi. Akhirnya perjalanan Homer berhenti di sebuah mercusuar. Bukannya mencari soulmate, malah memecahkan bohlam mercusuar. Tiba-tiba Marge dateng out of nowhere dan membantu Homer. Homer kaget, bagaimana Marge bisa menemukan dirinya.
Homer: But how did you find me?
Marge: Well, I was sure you’d be on foot, because you always say public transportation is for losers. And I was sure you’d head west, because Springfield slopes down that way. And then, I saw the lighthouse, and I remembered how you love blinking lights. Like the one on the waffle iron.
Begitulah bagaimana Marge sangat mengenal diri Homer. Itulah yang dinamakan soulmate.
Sekarang, bagaimana mengaplikasikan kata ‘Soulmate’ ke keadaan realita? Apa iya ada? Kyk contohnya: kejadian paling sering adalah kebetulan lagi mau sms/nelpon eh tiba2 di telpon duluan :p
Ngga terasa udah lebih dari sebulan ngga ngeblog. Hehe.. jangan tanya ah karena apa. Gampang aja, klo aku ada berita, pasti ngeblog, kalo ngga ada, ya ngga ada berita. Paling juga nge-flickr aja.
Ngga terasa juga sejak April 2007 aku bolak balik Bali, dan sampai sekarang belum juga berhenti. Ngga jelas kapan selesai, jangan tanya. Kalau aku tau, aku pasti bilang. Kalo aku ngga bilang, artinya aku ngga tau.
***
Awalnya diberi deadline, harus buka counter tanggal segini segini.. so far aku bisa tepati, walopun ada kritik dan saran, itu hal biasa. Ruang lingkup kerjaku tidak ada deadline khusus. Kadang-kadang saja ada deadline seperti pembukaan kemarin, dsb. Aku dikenal sebagai pekerja yang bertanggung jawab dengan menyelesaikan pekerjaan. Artinya, bos ku tidak begitu ragu bagaimana cara aku mengerjakan, yang penting selesai. Aku terbiasa dengan itu.
Dalam kurun waktu hidupku, aku jarang atau hampir tidak pernah memberi deadline ke orang lain. Aku orang yang tidak disiplin, mudah menerima alasan. Kadang jadinya kurang tegas pada staff.
Apa rasanya bila diberi deadline yang kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya? Tidak bisa tidur semalaman, kepikiran walopun merem, ragu ini itu, pengen teriak rasanya. Denyut nadi tangan sudah berkedut-kedut, tempting untuk disilet. Pengen kabur dari yang namanya tanggung jawab. Mengganti nama, ktp, lokasi. Dunia baru. Tapi itu semua cuman dalam sekelibatan pikiran. Menghayal sambil tidur, atau jangan-jangan itu mimpi buruk?
My mom sudah ngga ada lagi disampingku untuk memberikan aku bantuan / petunjuk. Aku sudah hampir 27 tahun. Sudah saatnya menentukan hidupku sendiri.
Apa jadinya kalau aku yang memberi deadline?
Once in a life time.. katanya, paling tidak nyoba biar tau rasanya, biar bisa mengira-ngira sampai dimana batasnya.
Untuk semalam dan malam ini, aku sudah di booked oleh bosku untuk menemani dia ke Hu’u Bar. Entah kemarin, tapi malam ini Hu’u Bar ulang tahun, jadi pasti rame. Semalam akhirnya aku berangkat dari rmh bos di Renon menuju Hu’u Bar setelah tidak selesai menonton Resident Evil yg ketiga untuk menunggu waktu dugem mulai.
Although I’m not a newbie to dugem style, neither a pro. Setahun bisa dihitung dibawah 5 kali. Tapi untuk urusan minum, aku penggemar Singapore Sling dan ordinary red wine maupun white wine. Oh ya, no beer for me, please.
Jadi, semalam, begitu sampai di sofa favorit di Hu’u Bar, langsung dipesan Lychee Martini, minuman terkenal disana untuk kita ber4 (akyu, Bu Est, Bu Nev, Pak Dav) dan Gin Tonic unt Pak Ghan. Buat ngganjel perut, aku makan Tiramisu yg ternyata kurang enak.
Lychee Martini habis, dipesankan Martini lainnya untukku. Itupun sudah disuruh2 ‘turun’ dengan diancam “kalo ngga turun, ngga bakal diajak lagi”.. akhirnya minuman aku teguk habis. A Mild Hijau aku hisap supaya cepat tipsy dan berani untuk ‘turun’. Dance floor belum penuh, walaupun dancers sudah mulai ada disamping-sampingnya. Aku pun disuruh minum 1 gelas Lychee Martini-nya Bu Nev dan dipesankan lagi Tequila Shot.
Njrit..
Mereka masih memesan 1 botol vodka dengan cranberry syrup dan es batu.
Ya ya.. mestinya Tequila Shot jadi minuman pembuka supaya berani.. akibatnya.. langsung cepat ‘high’ tapi juga kekenyangan minuman.
Dansa sukses, ketawa ketiwi, dansa bareng, dll.. sampai ngga sadar jam 2 malam, Hu’u Bar sudah mulai sepi, para dugemers sudah pindah ke Bacio atau entah tempat lainnya.
Pak Ghan.. yg bertindak sebagai my daddy when I’m Bali sudah ketawa-ketawa sama Bu Est sambil menunjuk ke aku.. dengan logat melayu-singapore nya “ini anak sudah mabok… sudah saatnya pulang”.
How do I know when I’m drunk? Sepertinya beda-beda tipis dengan yang namanya tipsy. Ketika kamu berhenti bergerak (dance) dan mencoba berdiri itu sangat susah sekali.. lalu ketika kamu coba duduk, you get the spinning head.. nah itu namanya mabok. Perlahan perasaan mual datang, n that is the worse time. Jadi, mual bisa ada ketika kamu mabok dan kamu tidak goyang. Kalo kamu goyang, kamu ngga akan mual.
Aku coba muntah di kamar mandi Hu’u Bar yang bagus itu.. (emang bagus interior wc-nya) tapi juga ngga keluar, yang ada aku malah tepat duduk di lantai, ngga bisa bangun, spinning head. Bu Est bawakan aku tissue yang dibasahi air untuk mengelap muka, ah.. better.
My Daddy jadi ketawa-ketawa ngeliat tingkah polah anaknya yang mabok, mengingatkan dia ketika masih jaman anak kuliah. Bu Est juga, malah jadi cerita-cerita her first jackpot back in college.
Aku duduk di mobil di seat belakang, mencoba tiduran ke samping. Agak mendingan untuk beberapa saat. Sesudah itu aku mencoba duduk biasa, bangun, eh malah jadi parah.. langsung minta kantong plastik, kalau ada. Mobil langsung dihentikan di pinggir jalan, dan aku sukses jackpot sampai 3x. Sambil muntah, aku mengingat-ingat kapan ya terakhir aku muntah.. kyknya sudah lama sekali.
Ahh.. mendingan deh sesudah dimuntahin semua, yang rata-rata seperti air putih semua(mungkin air alkoholnya.. ). Mereka ngetawain aku, aku juga jadi senyum-senyum malu. Kata mereka, at least once in a life time.. you should try it.. *wink*
Pulangnya, aku masih harus dipapah ke tempat tidur, karena begitu njeblak ke kasur tengkurap, sudah ngga bisa ngapa-ngapain lagi. Berat untuk bangun.
Sebenernya sebelum akyu memberanikan diri untuk ngeblog tentang resep ini, aku yakinkan setelah googling, gak nemu resep lulur lainnya, hahahaha… *curang*
Jadi gini *saelah*.. sejak jadi anak lounge,… maksudnya suka nge-lounge kalo di bandara.. itu artinya aku terlalu sering bepergian entah ke sana kemari (kalo kata Saylow, hari ini menclok disini, besok udah disana .. *entah disananya dimana*). Ember, tahun ini banyak diberi wejangan oleh dewa keberuntungan (bukan dewi).
Yang namanya bepergian, harus siap sama yang namanya dimintain oleh-oleh.. ohya.. ada yg request no more gantungan kunci. Kemarin, Bu Est, my lovely bos sudah wanti-wanti nitip segudang titipan dari Spore, padahal minggu lalu dia baru dari Spore.. kurang beli lebih banyak lagi, katanya. Nah, kali ini anak-anak kantor sudah wanti-wanti nitip oleh-oleh bubuk lulur. Haiyah..
Bubuk lulur emang banyak macamnya, googling saja, pasti mendarat di situs-situs pendek produk-produk lulur bali. Di Bali sendiri terkenal dengan Boreh Bali Powder. Padahal yg Ririn pesan adalah lulur buat pengantin, which is Lulur Jawa yg kental aroma dan warna kunyit. Padahal kalo boleh milih, wangi boreh lebih eksotik ketimbang lulur jawa.
*Hunting…* Ya iya lah.. secara klo gw gak bawa pulang bubuk lulur, disuruh balik lagi ke Bali. Ya sama lah sama bos.. kalo gak bawa titipan dari Spore, gak boleh balik ke Bali.. *sigh..*
Kata mamaknya piptinjun, aku bisa dapetin bubuk ini dengan harga murmer di Pasar Badung, Denpasar. *Makasih Mak!* Kakiku menyusuri tangga dari arah Pasar Kumbasari melewati jembatan yang melintasi Sungai Badung.. aduh mak.. kalo ngga ada wangi-wangian ikan dan sampah, sudah ku keluarkan kameraku dengan lensa baru, nok. Naik ke lantai 2, lalu menuju ke arah tengah, penjual bubuk rempah.
Penjual rempah pertama kutanyakan, apakah menjual bubuk lulur. Ibu itu bilang “sing ada” .. *gubrak*.. “tapi biasanya ada yang beli di tempat tiang, campuran beberapa rempah ini .. ini … untuk dijadikan bubuk lulur”.. *hyaa sopo nyono, rek..*.
Bubuk rempah-rempahnya bisa dibilang komplit, rapih dan diplastik satu-satu dengan ukuran small (5000), medium (10.000) dan large (20.000). Dari yang namanya bubuk sandalwood sampai bubuk merica putih pun ada. Akhirnya, ibu niki mengambil hasil ramuan pembelinya yang suka memesan di ibu ini.. dia bilang, ada 12 kantong yang biasa diambil:
- 4 kantong medium bubuk sandalwood powder (kayu sandal / cendana)
- 2 kantong medium bubuk ginger powder (jahe)
- 2 kantong medium bubuk coriander powder (ketumbar)
- 1 kantong medium bubuk nutmeg powder (biji pala)
- 1 kantong medium bubuk cinnamon powder (kayu manis)
- 1 kantong medium bubuk clove powder (cengkeh)
- 1 kantong medium bubuk turmeric powder (kunyit)
Oke, aku ambil resep yang sama aja.. urusan benar atau tidak, belakangan. Toh dari wangi-wanginya.. samar-samar mirip koq.. hehehe.. Bayar 100.000.. harga langganan, keto nok katanya.
Wangi yang paling enak ya jelas kayu manis, kedua baru jahe, biji pala dan cengkeh. Sandalwood malah kurang wangi, begitupula dengan ketumbar. Yang pasti sih, ayam goreng ketumbar memang enak.
Dari ke 12 bubuk tersebut dicampur aduk dalam wadah.. Ngemeng-ngemeng.. jadinya koq kyk Boreh beneran yah? Hahaha.. Bedanya, boreh ini pakai kunyit, jadi ada kuning-kuningnya.
Cara pakai sih sebenernya sesuai selera. Bisa dicampur dengan minyak zaitun, sambil menghirup aroma oil burner dari minyak jasmine, minyak lavender maupun lemongrass (serai).. those are my fav oil perfume. Lalu dilumurkan ke kulit, gosok-gosok sampai daki terangkat, tapi jangan sampai lecet.
Cara lain ada juga dilumurkan dulu minyaknya sambil dipijat.. baru belakangan bubuk lulur dilumurkan dengan sedikit air agar tidak terbang-terbang.
Cara lain lagi, dicampur dengan susu bubuk, .. semi lulur rempah dan susu.. hahaha.
Ohya, bonus list wangi-wangian yang tidak disukai nyamuk:
Pause dulu lanjutan cerita liburan October Vacation nya. Terlalu detail, memerlukan niat dan mood yg prima.
Sebenernya, sehabis liburan October Vacation, aku sempet ijin 2 hari ke Malang. Mulai deh minggu-minggu kawinan. Kawinan pertama dimulai Sherly dan Donny yg sudah pacaran sekitar 6 tahun. Sherly sudah menetap di Spore, sedangkan Donny akan menyusul sambil mencari kerja. Sherly adalah sodara sepupu paling dekat denganku.
Foto-foto lebih banyak bercerita ketimbang cerita narasiku. Memang dasar akunya yang males pasang foto dibarengi dengan narasi cerita, sehingga aku mengira pembaca (dan pemberi komen) mulai sedikit. Mumpung 3 bulan ini aku dapat free Flickr Pro, ya digunakan banget, apalagi sudah ada equipment Canon 400D (yang masih pakai lensa kit) jepret sana jepret sini, ngga pandang perlu atau tidak.
Kembali bekerja sehabis banyak libur itu tidak enak. Mengejar info ketinggalan, problem ketinggalan, bahkan gosip seputar kerjaan dan selebritis yang ketinggalan. Apalagi di situasi kalau aku harus memotong cerita orang untuk bertanya dulu kronologis cerita dari awal.
Beberapa hari saja aku di Jakarta, sudah terbang lagi ke Bali. Pas di Jakarta sempet jatuh sakit karena tubuh ngga kuat dengan kepo nya aku ingin kesini kesitu. Ke Bali bukan masalah, yang jadi masalah ketika ada problem besar di kantor (ganti manajemen). Aku lalui 8 hari di Bali dengan di enjoy saja, panas ya panas.. lengket, lembab, kringetan melulu, make-up tidak nyaman, rambut diurai tidak nyaman, tiap sore menjelang malam suasana sudah mulai dingin tapi badan masih lengket.
Ditengah perjalanan ke Bali ada peresmian oleh SBY dan beberapa mentri, gubernur setempat dan walikota setempat. Dibilang repot banget ya tidak, tapi aku mesti ngejar pembuatan name-tag untuk jangan sampai anak-anak divisiku ditembak atau tidak bisa masuk lokasi Ring 1. Name-tag dibuat dengan modal kamera sendiri, background seru berwarna-warni, tulisan nama panggilan (real name), print di printer biasa dengan kertas foto biasa. Masuk ke name-tag-holder, beres.
Pulang dari acara peresmian BSMP oleh SBY, aku diculik leh 3 ibu-ibu gokil shopaholic untuk kabur ke Seminyak *ngumpet*. Foto jalan-jalan ada di flickr.
Sebelum akhirnya pulang ke Jakarta, sempet mampir ke rumah om tante di Renon, sowan, ngobrol, malah dikasih snack buat perjalanan pulang dan aku tawarkan nitip oleh-oleh dari JPC Kemang. I love them. They are so nice to me, just like their own daughther :p
Pulang ke Jakarta harus mengerutkan dahi untuk menghadapi intrik dengan petugas pengatur taksi bandara. Belum lagi kemacetan yang makin parah karena pembangunan busway sudah merambah daerah Jakarta Selatan. Kangen masakan Jakarta seperti sate padang, nila goreng cianjur, bebek goreng (ah.. sampe sekarang blum kesampean).
Besoknya aku dan Nugi ke salon. Awalnya mau ktemu dokter untuk urusan dietary *jd maluw* tapi jadinya malah urus rambut biar nurut dan pasang cutex hitam+silver *devil’s laugh*. Nugi potong rambut biar rapih. Hasilnya juga ada di flickr. Ngga lama, pasangan Tublub dateng untuk relaksasi meni pedi dan krimbath. Maklum bow, kantor Blub sudah ngga di bunderan Ratu Plz, tapi malah pindah ke Mangga Dua.
Malemnya acara kawinan sodara sepupu yang sejak lulus SMA pindah ke Jakarta untuk kuliah dan kerja, Ivana dan Luki. Ketemu lagi dengan beberapa sodara yang waktu kawinan Sherly juga ada. Aku sudah ngga mood pilih-pilih baju. Antara mau gaun rok pendek atau rok panjang. Akhirnya malah pakai kemeja hitam u can see dan sarung silk punya mom warna hijau. Foto-foto, senyum sana sini, menjawab pertanyaan seperti template (biasa.. ditanya kapan menyusul).
Malam itu, tenggorokanku sudah perih :( ngga bisa ngomong.
Paginya kita masih harus menghadiri kawinan Dewi dan Krisna, anak dari Tante Suzanna yang sama-sama kampung halaman dengan my mom. Sinta, kembaran si Dewi juga sibuk ketemu teman-teman yang dateng. Lucunya, gift souvenir nya Ivana dan Dewi sama.. hahaha.. sama-sama tempat jewel dari tanah liat bentuk kura-kura. Lagi musim ya?
Sempet ngga sadar kalo ada 1 mantanku yang pasti datang karena dia juga kenal dengan Sinta Dewi. Mantan yang aku malas sekali ketemu. Tapi ya namanya kesopanan, harus dijalani. Sapa-menyapa, jawab sekenanya, yang penting sopan.
Hari ini tidak begitu istimewa, kecuali meeting dengan manajemen baru, sangat amat kurang tidur. Hanya 1 hal yang membuatku termotivasi untuk menulis blog lagi. Long time no see, one of my close friend. Dia kembali lagi ngeblog, setelah blog-blog lamanya hilang karena tidak di back-up. Cerita tentang kita dulu ngapain aja.. aduh kyk masa abege baru gede, ketawa-ketawa tanpa sadar hari esok, tengil dan aktif kemana-mana, malu pas menceritakan.. aih..
Kembali lagi aku sadar, my memory.. ada gunanya juga cerita-cerita itu.. untuk bisa dikenang, ditulis di blog, diary, etc. Salah satu yang membantu aku dalam hal bercerita kronologis adalah hasil foto-fotoku.
Hehehe.. udah lama banget ngga ngeblog, padahal cerita udah bejibun. Mungkin kalo ngeblog tidak lagi dengan tulis menulis, tapi dengan mendengarkan kyk radio mungkin.. i would like to try.. tapi ngga mau podcast (halah)..
Padahal kemaren-kemaren sempet mikir, aku ngeblog itu lho kan ngga punya tema tertentu, bukan tentang IT, bukan tentang ini itu.. tapi ya tentang aku sendiri. Lha koq malah stagnan. Aku pikir sih emang akunya lagi males-semales-malesnya mungkin. Ngga mood. Cancer emang berteman erat dengan moodieness.
Tapi yang namanya ngeblog diary mode, mestinya harus update dengan segala kejadian. Untung selama kejadian berlangsung, banyak foto-foto yang diabadikan sebagai pengganti ngeblog di sini. Bukan apa-apa, aku kronologis minded banget, apa-apa harus kronologis dan harus di record. Tapi yg namanya kyk gitu kan ya pasti ada masa males-males nya. Ya gitu itu tadi, mumpung males nulis, jadi foto-foto aja deh. Tuh di flickr ku banyak, mumpung lagi pro juga.
October Vacation
3 minggu aku menghabiskan waktu di Gianyar, Bali untuk mempersiapkan pembukaan salah satu cabang tempat kerjaku. Ngga bermaksud kabur dari tanggung jawab hectic nya pembukaan, tapi berhubung tiket sudah dipesan jauh-jauh hari, ya mau gmana lagi, bow.
Balik dari Bali tanggal 1 Oktober, tanggal 3 oktober udah mesti ke airport lagi untuk perjalanan jauh +/- 20 jam lah, Jakarta-Singapore-London-Belgrade. 1 hari itu diisi jalan-jalan sama pacar, beli-beli barang yang diperlukan untuk dibawa oleh-oleh, ngatur dan ngepak barang (eventhough last minute) kali ini aku tidak ada yang kelupaan (ngga seperti tahun lalu lupa bawa charger kamera.. brengsek). Sebelum ngepak, ngecek suhu di tanah Serbia sana, sekitar 15-20 celcius. Aku bawa semua kaos lengan panjang yang aku punya, celana pendek buat di rumah atau buat jalan-jalan bila perlu, spatu kets, sandal jepit, 4 baju baru dari Zara yg sekseh. Oleh-oleh paling ya bubuk coklat buat bikin kue atau susu coklat, cabe rawit, mi instan, dll.
Aku sudah diwanti-wanti sama mamah dan tanteh untuk jangan brantem sama adekku, si Tibi. Yeah rite, koq mreka ngga tau aja.. yang bikin kita brantem itu kan saat kalian memberikan perhatian yang beda kepada kita berdua, jadinya ya berantem. Kalo pas ngga ada kalian, kita yang kompak. Gitu aja koq repot. Sejak perjalanan, Tibi sedikit rewel, tapi tidak begitu berarti. Maklum, dia lagi masuk masa cinta monyet tapi cinta banget sampe ngrengek-ngrengek minta pulsa sms buat kabarin pacar monyet nya setiap transit. Bela-belain habisin waktu yang berharga untuk perbuatan yang menurutku tidak berharga. Lainnya tidak ada perbuatan menyebalkan yang berarti, selama perjalanan ini.
Di Changi Singapore, kita sempet keluar dari imigrasi untuk ktemu our Mom. Kita sempet dinner di Crystal Jade sambil ngobrol juga. Nice time, aneh juga bisa keluar imigrasi untuk hanya ktemu begitu, this is the first time, thank God orang imigrasinya ngga kenapa-kenapa. Perjalanan jauh dari Singapore-London pengennya sih tidur aja, biar ngga terasa lamanya. Mana batrei kamera pas habis ketika sudah masuk pesawat, trus juga ngga dibolehin nge-charge di dalama pesawat walopun di wc nya ada port listrik untuk shaver. Udah mana wc nya bagus (pesawat baru kyknya) trus full cermin semua, luas, .. gatel pengen motret.. tapi apa daya, hanya bisa menikmati dengan mata aja. Damn..
Di airport Heathrow London, kita langsung kasih kabar pacar, mom & tante bahwa kita sudah sampai, ngga ada problem, dan kita akan habiskan waktu 3-4jam (lupa) keliling-keliling aja di terminal 4. Adowhh.. terminal 4 itu sucks banget, ngga sebagus terminal 1 (tahun lalu aku mendarat di terminal 1 karena ada transit ke Hongkong). Ya cuman sempet foto-foto aja (yang lalu aku pasang di flickr dan fotografer.net). Tibi sempet beli baju bola, mehel padahal. Aku ngga beli apa-apa, paling kue dan minum aja. Oh ya, mesti beli port listrik converter buat ngecas batrei kamera di airport. Aku pernah baca, di suhu yang dingin, batrei kamera cepat habis ketimbang di suhu normal tropis.
Sesampainya di Beograd, koper keluar lengkap (tidak seperti 2x penerbanganku yang lalu, pasti ada yang nyasar ke kota/negara lain). Pas kita keluar menemui nenek, eh.. gak ada. Mati aku, mana kartu Matrix ku ngga dikenal sama telfon provider di sana, aneh, padahal tahun lalu dikenal. Muter-muter pun juga ngga ketemu nenek. Udah takut berpikir macem-macem, tapi aku buru-buru hapus dan mencari tempat beli kartu perdana. Oh ya, SIM card Serbia ku yang tahun lalu bisa dipakai kyknya sudah expired karena lebih dari setahun ngga di perpanjang.
Nah, pas beli itulah aku ktemu sama Feri Bacsi (Om Feri) yang nyetir mobil nenek. Rupanya mreka telat datang (i think.. entahlah.. saat itu aku masih asing untuk mengerti nenek, mesti adaptasi dulu). Setelah beli nomer perdana yang hanya bisa berhubungan dengan Telkomsel (menurut website, kata Nugi) aku telp Mom untuk kasih tau sudah ktemu nenek (nenek ngga mau punya hp katanya ngga perlu). Di perjalanan Belgrade-Senta aku tidur, perjalanan 4 jam.
Sore sampai di Senta, bongkar koper, oleh-oleh, rebutan tempat tidur (aku berhasil mempertahankan tempat tidurku dulu). Malam itu juga komputer nenek langsung diserbu sama kita, .. rebutan komputer juga, hahaha. Internet di sana cepet bow.. walopun Serbia, tapi di Eropah gituloh.
Sorenya kita sempet keluar jalan-jalan (meregangkan kaki), udara sekitar 15-20 memang, sejuk-sejuk gmana gitu, aku pakai jaket lengan panjang yg warna krem (my fav.. Marc Jacobs) sudah cukup. First stop seperti biasa, Keluarga Kori. Tau dong, di beberapa postinganku kemarin, ibunya Kori meninggal karena tabrakan. Beruntung kita papasan dengan Kori yang hendak ke pemakaman untuk berdoa. Aku menyempatkan ikut ke pemakaman (secara ke pemakaman harus pakai mobil, dan nenek ngga punya mobil, jadi ya ini kesempatan. Kita ngga mungkin bisa kesana sendiri, apalagi ngga tau lot nya yg mana). Aduh, air mataku mengalir sama deras dengan Joszéf Bacsi dan Kori pas aku melihat nama Jutka Néni terpampang di lot pemakaman. Sniff.. sniff..
Malam-malam berikutnya dilalui kurang begitu nyaman. Dari Tibi yang selalu komplen ngga enak ini itu, ngga bisa makan daging kalkun, paru (ati) ayam, tapi pengennya wiener schnitzel melulu (bikinnya kan susye.. mana nenek hidup sendirian), kerjaannya internet melulu, sakit tenggorokan yang membuat dia ngorok dan aku ngga bisa tidur semaleman, pengen makan di resto melulu (soalnya makanan nenek ngga cocok.. maklum, emang dasar anak manja.. ngga bisa hidup susah dikit). Trus akyu nya lagi PMS, jadi bawaannya marah melulu, tidur melulu (jadi males dan gampang capek), ngga keluar rumah, berantem sama nenek sambil ngga bisa ngomong banyak karena masih lupa-lupa.. mesti ngumpulin vocab lagi biar inget-inget. Pokoknya ngga enak deh.
lanjut next posting ah…
Kemarin nyampe rumah nenek akhirnya jam 6 sore. Sudah mulai gelap, jadi ngga bisa ngapa-ngapain lagi selain bongkar koper, nata tempat tidur, masak indomi (oh yeah, i bring lots of cabe rawit dan cabe kriting, plus sambal botol dan bubuk cabe.. hahahaha). Indomi paling enak dimakan malem-malem dingin-dingin pedes-pedes.. sambil pelukan? *miss Nugi* Eniwey, melegakan tenggorokan dan hidung yg sudah kering karena perjalanan pesawat +/- 20jam.
Rebutan komputer nenek itu sudah biasa. Berantem sama Tibi juga sudah normal.. hopefully by the time melewati 2mgg 2 hari (postingan kemarin di ralat deh) masih bisa akur dan belum bunuh-bunuhan.
Sebenernya, pas transit di Changi sih ngga masalah, malah sempet-sempetnya ktemu Mom yg mampir ke Changi dan kita makan di Crystal Jade *halah*. Trus di London pun masih bisa sms Ririn, Nugi, Mom & Tante Anne. Eh begitu nyampe di Beograd, mampus deh, Matrix ku tiba-tiba ngga menangkap sinyal apapun. Begitu kita sudah ambil bagasi (kali ini bagasinya selamat sejahtera) dan keluar untuk ketemu nenek, eh.. gak ada. Kita berdua cengo’ aja gitu. Siyal, untung ngga ditangep sama paparazzi. Mana matrix ngga bisa diandalkan untuk telp Mom. Akhirnya aku puter-puter cari sim card lokal, eh nenek baru dateng.

Ngemeng-ngemeng masalah sim card, akhirnya di erpot aku beli provider m:ts by Telekom Srbija yg previx number-nya 064. Aku punya Mobiklik yang previx number-nya 063 malah udah expired (padahal disini expiary date nya setahun-an). Sekaligus aku beli pulsa 1000 Dinar. Ternyata koneksi unt menelpon Mom jelek, kyknya otomatis pake VoiP. Yasu, yg penting ktemu nenek lah. Perjalanan ke Senta 3-4 jam.

Setelah nyampe Senta, kebingungan mau sms Nugi gak bisa. Mau coba sms Ririn n the office gank yg pada pake Xl pun pada ngga bisa. Hla.. gmana gw mo komunikasi cobak. Gebleknya lagi, emang sih kalo Telekom Srbija itu kerjasamanya sama Telkomsel dowang. Trus mestinya Mobicom (Mobiklik) dengan previx number 063 mestinya kerjasama sama Indosat dowang. Trus yang kerjasama dengan Xl siapa? Eh ternyata gak ada. Cape dee…

Aku sudah coba beli perdana yg dijual disini, ada Vip (wiki), Telenor (wiki). Siapa tau bisa kerjasama dengan Xl atau paling tidak Indosat. Telenor mestinya kerjasama dengan Indosat. Tapi ternyata jg ngga perfect bisa. Aku bisa sms, tapi dr Ind gak bisa bales. Yang jalan cuman Telkomsel (kali ini).

Yasudeh, sms-smsan dengan Tia (gank Ririn yg satu lagi) karena dia pake Telkomsel.
Brengsek banget. Sudah nulis 5 paragraf, tiba-tiba dalam sekejab hilang seketika. Yasudah, nulis di compose gmail aja biar di save otomatis.
Ngga tega sebenernya meninggalkan Ririn, Tia, Dhiana dan Rini berkutat dengan kesibukan, peluh keringat, kehilangan lemak, stress under pressure di Bali. Bukan maksud kabur atau bersenang-senang, tapi siapa suruh pembukaan diundur dari tanggal 1 Okt menjadi tanggal 9 Okt ketika aku sudah keburu pesan tiket sesuai dengan jadwal libur panjang Tibi, my bro.
Sejak pulang dari Bali tanggal 1 Okt kemarin, aku ngga berhenti menelpon mereka (XL murah, yeah) berkali-kali untuk mendengar update laporan disana. Tidak terkecuali Bu Est yg makin stress dengan politikus yang mengaku tidak berbuat politik. Untung masih ada Pak Ghani di sana yang bisa menentramkan keadaan. My wise cool daddy.
Kemarin akhirnya selesai juga mengepak 2 koper untuk dibawa ke Serbia. 1 koper isi barang-barang pribadi yang cukup ringan dan masih ada space. Satu koper lagi isinya small rice cooker, beras 5kg, indomie more than 20 bungkus, cabe kriting dan cabe rawit, Baileys buat nenek. Koper itu sendiri beratnya 26kg. Untungnya aku berangkat berdua dengan Tibi, menghabiskan total 57kg dari max kapasitas 60kg.. heh heh .. *ogah rugi bgt*.
Kerjaan kita dari Changi – Heathrow adalah foto-foto narsis, ngetawain orang lain yang ngga ngerti bahasa kita, sibuk sendiri dengan cari makanan dan lihat-lihat gadget. Berhubung di Heathrow cukup lama, maka kita main internetan saja. Mahal sih, 1 Euro 5 menit. Habis ini mau jalan-jalan ke toko-toko dan foto-foto lagi.
Coba Nugi jadi ikutan :p
Bayangkan kerja tanpa internet, tanpa telpon (telpon rumah maupun handphone). Primitif sekali. Rasanya pengen teriak!
Kejadiannya akhir-akhir ini. Setiap hari biasanya aku mengecek email pribadi dan email kantor. Sejak beberapa hari yang lalu email kantor sudah ngga bisa dibuka dari sini. Pertama aku kira karena lamanya internet. Memang sih, disini internet makin lama entah kenapa. Luambat buanget. Buka email pribadi di gmail aja susye, tapi ya bisa. Ternyata Mas Yuke dan Dita yang kerjanya juga sering menggunakan internet pun mengalami kesulitan dengan email kantor dan juga internet yg luambat.
Ada apa nih? Tanya punya tanya, ternyata memang internet yang lama dikarenakan router/switch yg mulai jelek performa nya. Pikirku, ah masa sih? Yasud, mau gimana lagi? Aku sempetkan untuk cek imel (cek saja, sedikit membalas bila perlu, tanpa attachment) via gprs.
Telepon kantor yang hunting 4 nomer pun sejak sebelum aku ke Bali juga ada masalah. Lucu masalahnya. Ketika ditelpon dari luar Bali, malah ngga keluar suara apapun. Ngambang gitu. Bt banget kan. Jadi kita mengandalkan telpon ke hp (dari kantor Jakarta) ke setiap anak-anak yang aku cari. Ribet banget.
Beberapa bulan yg lalu aku disini, terlihat sinyal XL paling lemah di beberapa blank spot. Kadang-kadang untuk menerima telpon pun harus menempelkan pipi ke kaca jendela, hehehe. SEKARANG, ngga cuman XL saja, Indosat dan Telkomsel juga parah. Koq tiba-tiba sinyalnya berkurang banget?? Sampe-sampe di meja Dwi ada blank spot untuk XL dan Indosat (entahlah kalo Telkomsel, karena aku ngga pakai). Arrgghh..
Seharian tadi, aku pergi ke Tegallalang sama driver, Pak Nyoman, untuk mencari pesanan Pak Wil dan Bu Est untuk bagian Resto Uma dan Bungalow. Kesel banget ketika sudah ada barang dan pengen telpon untuk konfirmasi, eh ngga aktif. Berkali kali ditelfon, ngga aktif. Kesel banget. Akhirnya telpon operator kantor, tanyakan ke orang yg bersangkutan via HT yg operator pegang, yang mana akhirnya aku dengar sendiri lokasi orang tsb memang pas di blank spot. Ah sialan memang.
Menjadi primitif memang repot.
Kalo Bang Aip bisa koar-koar ngga jelas menjelang sahur.. di Bali sini malah ngga terasa sekali kesan bulan puasa. Beberapa orang lapangan muslim pun tidak semua menjalankan puasa, jadi kita juga ngga terlalu membatasi makan, minum maupun pandangan yang merokok dimana-mana.
Jadwal tugasku mulai tanggal 12 September sampai tanggal 1 Oktober di Bali. Lama memang, tapi sekalian daripada pulang-pergi bikin ribet, biaya lebih dan kurang maksimal. Pembukaan sudah diundur-undur dari Juni ke Oktober gara-gara main bridge roboh diterpa banjir pas Juli kemarin.
Sudah 11 hari aku disini, belum sempet juga yg namanya ngeblog. Setiap hari hectic, membuat catatan apa saja yang akan dikerjakan. Pemesanan barang harus dilakukan belakangan, pemesanan & desain fixtures + kasir juga harus dilakukan dari dulu-dulu. Kyknya emang mesti ke bali sejak kemarin-kemarin deh. Hecticnya disini bukan saja tentang deadline untuk pembukaan (umum) tanggal 9, tapi juga keterlambatan macam-macam karena kurang SDM, ribet & bentrok dengan orang-orang tidak berotak cerdas, macam-macam deh.
Selama di Bali, malas sarapan, malas makan malam, bahkan makan siang saja dikit-dikit.. yah.. asal ada nasi sesendok, sup, daging dan sayur. Ngga nimbang, ngga perhatiin badan, bahu + punggung pegel melulu tiap di depan komputer karena posisinya ngga ergonomis. Habis gmana dong, namanya kerja di field, belum ada kantor untukku sendiri. Ya memang sedang pesan sih, tapi ruangannya masih harus disiapkan, dibersihkan, dipasang yg namanya listrik, kabel telpon dan internet.
Foto-foto banyak, lihat saja di flickr-ku. Tidak semua foto-foto hasil jepretanku (ya iya lah, kalo ngga kapan aku narsisnya) tapi bagus-bagus. Saking banyaknya tugas dan yg perlu dipikirkan, rasanya ingin membagi tubuh jadi beberapa. Kalau besok hari senin anak-anak kantor bakal dateng ke sini, Ririn dan Tia, aku harus ke Tegalalang untuk beli kap lampu dari bahan bambu 4 macam @ 25pcs. Kenapa harus aku? Soalnya mereka percaya mataku. Nah, itulah alasannya kenapa harus aku. Padahal besok aku janjian dengan beberapa SPG untuk di interview untuk dibagian divisiku.
Ribet ribet ribet. Tapi ya itu yg namanya kerja di proyek. Belum ada yang rapih, belum ada yg terorganisir. Pengalaman memang .. aku ngga merasa rugi koq. Walopun siang-siang bos marah-marah kyk ikan koi mangap-mangap, tapi malamnya masih bisa menikmati indahnya Bali *ciyee..*. Gak gak.. emang apaan sih, hehehe. Beberapa malam dihabiskan dengan tidur sendirian di mess, kapan itu malah dugem bareng bos (bos ku ada yg lagi dideketin sama Bella Saphira, tp bos ku ngga mau) di Hu’u Bar dan Bacio. Sempet-sempetin nengok Herbi dan Ebo yang baru punya Chiara, bareng Dental dan Saylow.
Rencananya, tanggal 1 Oktober nanti aku pulang untuk siap-siap ke Yugo. I know.. menyebalkan memang harus melewatkan yg namanya pembukaan, walopun ribet, tapi pasti seru. Habis gimana lagi, planning ke Yugo sudah direncanakan sejak awal tahun mengikuti hari libur Tibi (my bro), karena kita kan brangkat bareng. Aku bakal berangkat tanggal 3 Oktober nanti, dan pulang tanggal 21. Habis itu, tanggal 27 masih harus ke Malang karena sodaraku, Sherly, bakal merit (dan aku sudah janji untuk datang).
Bener-bener ngga enak, tapi ya mau dikata apa, aku sudah pesan tiket sejak dulu. Kebetulan aja pembukaannya diundur. Dilema, tapi mau dikata apa. Ya begitulah.
Tegnap hajnali fél hatkor a Beodrához (Novo Miloševóhoz) közeli útszakaszon, a zentai Dr. Gerő István Egészségügyi Központ minibusza belerohant egy, az úton veszteglő traktor kukoricával teli pótkocsijába. A minibuszban ülők közül hatan azonnal életüket vesztették, egy személy súlyosan, egy pedig könnyebben megsérült. Őket a nagykikindai kórházba szállították.
Mint az a tegnapi nap folyamán megtartott rendkívüli sajtótájékoztatón elhangzott, az áldozatok közt van B. Tibor (1962), a zentai mentőszolgálat sofőrje, és a mellette ülő N. Róbert. Az ápolónővérek közül meghalt G. Julianna (1957) zentai lakos, a kórház gyermekosztályának dolgozója, F. Ida (1956) csókai lakos, a kórház sebészeti osztályának aneszteziológusa, L. Judit (1960) zentai fogászati asszisztens és Sz. Ibolya (1960), a zentai kórház vérátömlesztő osztályán dolgozó egészségügyi nővér. A súlyosan megsebesült Cs. Ilona (1955) sebészeti nővért az újvidéki klinikán ápolják, közölte dr. Lengyel Víg Ilona, a zentai egészségház igazgatónője.

Taken from http://www.magyar-szo.co.yu/ on 14 September 2007.
Ok, ngga perlu di translate. Lemmi tell you in short sentence.
Inget Kori? Ibunya Kori, Auntie Judit meninggal karena kecelakaan mobil kemarin. Semobil 7 orang, meninggal 6 orang. Sad but true. My mom called me this morning.
She is the BEST auntie I’ve ever known. She took care of me just like her own daughter! Bikin birthday party buatku. Ajak aku ke keluarga besarnya. Bahkan adiknya Jutka Néni (begitu aku memanggilnya, walopun dia keukeuh minta dipanggil ‘Jutka’ saja) Anci Néni (Auntie Anna) dan suaminya Pero Bacsi (Uncle Peter) menjadi my godparents. Dia jg sering buatin makanan yang enak-enak yang aku suka tanpa diminta. Tidak pernah marah, bahkan membela aku ketimbang anaknya sendiri. Too much information I cannot tell, makes me cry everytime.
Foto Jutka Néni menyusul soalnya aku lagi di Bali sampai 1 Oct.
Sejak pengaduan ke Kabelvision yg sudah pindah menjadi First Media, kyknya blog ku makin banyak pengunjung baru dengan kiwot tsb. Itu artinya, makin susah lah untuk ngeblog ttg hal pribadi. Walopun teknisi First Media atau CBN ngga bilang ke aku, aku tau kalo mereka juga melihat-lihat blog ini *waving!*. Entah cuman postingan kemarin atau mungkin cari-cari tau tentang postingan yg lain. Reminds me untuk tidak lagi menulis tentang pribadi.
Tau darimana aku kalo mereka suka ngeliat? Ya iya lah, secara mereka juga cari ‘surat pembaca’ komplain di internet. Trus, pas aku nelp ke teknisi CBN, seakan mereka sudah tau siapa aku. Trus jg ada yang ngajak ngebahas ttg masalahku itu.. *nyanyi lagunya Matta Band*..
Tadinya kepikir mau nulis blog lagi di channel blog gratisan, tapi males harus memulai ‘promosi’ alamat blog baru dengan blogger lainnya. Males ber-blogwalking. Yasudah, toh aku merasa hidupku ngga begitu ada perubahan yg signifikan.
Niwey, hasil Google Analytics ku menunjukkan bahwa URL postingan ttg Pengaduan Kabelvision menduduki prosentase terbesar dari postingan lainnya. Tapi keyword “kabelvision” tidak banyak. Artinya, banyak yang mengakses page tersebut beberapa kali dengan cara menyimpan url-nya lalu diakses sesekali. Mungkin untuk melihat adanya update-an.


Penasaran? Nih aku bagi update-annya.
Kemarin pagi sekitar jam 10 aku dihubungi oleh Bapak Reza dari First Media, memberitahukan bahwa TAP sudah dipasang kemarin. Sambil ditelpon via HP, aku yang kebetulan masih di rumah (sudah mau brangkat kantor) langsung mengecek TAP di depan rumah. Uh, ngga keliatan yg mana yg namanya TAP, tapi aku lihat kabel nganggurnya sudah tidak ada, ya artinya sudah ada perubahan. Memang, kata orang rumah, teknisi Kabelvision tidak mampir masuk.
Aku cek di TV, channel 45 ke atas sudah bersih, bahkan sampai 50 ke atas juga bersih. Gembira hatiku :)
Kebetulan dalam semingguan ini internet di rumah mati. Kemarin-kemarin sih masih kadang-kadang bisa. Lha koq tiba-tiba malah mati total?! IP cable yg di router sudah di refresh, yang tadinya 202.73 dll dll eh malah balik ke 192.168.100.1. Sudah nelp teknisi CBN beberapa kali, masih aja begitu. Sudah di clear IP (kabar dr CBN, kemarin sempet bersih2 IP address) tetep aja begitu.
Ketika aku tanyakan tentang matinya internet, Bapak Reza langsung bilang, “oh iya, itu memang dimatikan dari kita”. Detik itu juga aku kesel. Koq ngga konfirmasi dulu? Apa-apaan ini? Bapak Reza langsung bilang bahwa sengaja dimatikan supaya billing CBN jg berhenti dan tidak dibebankan ke aku. Emang bisa begitu? So far, aku tidak ada masalah dengan ‘berat hati’ membayar tagihan CBN karena kerugian. Toh namanya langganan dengan iuran fixed ya memang begitu. Tapi kan ya bisa toh konfirmasi dulu, tanya dulu kek.. jangan langsung maen matiin dulu dong.
Nonsense ah, kalo alasannya begitu. Kalo memang ‘berbaik hati’ mau matiin internet ya mbok dari kapan tau dong.. pengaduanku ke bos First Media kan sejak Agustus, ini sudah September. Trus dimatikan beberapa hari sebelum pemasangan TAP??!! Kagak ngefek kaleeee. Alasan lu basi, Pak Reza!
Yasudah, daripada berlama-lama ngomel, yang penting sekarang TAP sudah dipasang, yasudah.. internet nyalain dongs. Eee.. Pak Reza bilang, pelanggan harus menelpon dari CBN untuk minta diaktifkan. Yaelah. “Pak Reza, sudah deh, jangan pura-pura. Yang matiin kan First Media, yasudah saya minta dari bapak nyalain langsung aja. Daripada muter-muter ke CBN segala. Buang-buang waktu saya”.
Ngga sampai 15 menit Pak Reza ini nelpon lagi. Katanya internet sudah nyala. Aku coba restart modem, buka browser, sudah nyala. Nah gitu dong Pak..
Langsung aku menulis email kepada bos First Media, mengabarkan bahwa TAP sudah dipasang, internet yang tadinya mati jg sudah menyala dan ucapan terima kasih atas tanggapan dari komplain aku. Tidak lupa juga aku mengabarkan berita yang sama ke Bapak Johan dari CBN. Lalu tagihan selama 4 bulan langsung aku lunasi. Aku telah memegang kata-kataku.
Case closed, walaupun aku telat masuk kantor.
Banyak yang meninggalkan komentar di postingan kemarin tentang keluhan kepada Kabelvision. Aku hanya bisa kasih saran:
- Tuliskan pengaduan dan kirim ke email First Media (email bisa ditanyakan ke CS). Dengan ini, pengaduan bisa diteruskan kepada pihak yang lebih mengerti ketimbang CS front line. Sayang aja, sebagian besar CS Kabelvision/First Media memang kurang dibekali dengan cara-cara yang baik dalam menanggapi komplain keras. Mereka lebih mengedepankan sikap ‘defensif’ ketika diserang. Suatu sikap yang salah untuk bagian CS. Mereka juga kurang dibekali informasi teknis, yang notabene Kabelvision adalah Home Cable.
- Tunggu dalam seminggu untuk adanya feedback (teknisi datang ke rumah, jawaban dari pihak CS, dll). Kalau tidak ada feedback, kopipes saja pengaduan anda ke Surat Pembaca Detik.
- Kalau masih belum ditanggapi, tulis ke beberapa Surat Pembaca selain Detik untuk pengaduan lebih keras lagi.
Aku pribadi sebagai pelanggan sebenernya cukup sabar menghadapi lambatnya penanganan dari Kabelvision/First Media. Beruntunglah mereka.
Iseng-iseng sebelum pulang untuk menghadapi long wiken 17-an, ada waktu stengah jam untuk ngerjain hp baton hasil timpukan dari Adis. Yaelah Dis, pacar punya toko hp gitu ya mbok nimpuknya hp baru gitu loh..
10 hal tentang hp ku:
1. Tipe dan Merk HP
Saat ini pegang 3 headset. Yang nomer utama adalah SE M600. Dibeli beberapa bulan yg lalu (search aja di blog ku) dengan harga 1.5jt cash dan tuker tambah SE K700i-ku yg keypadnya udah mulai lemot. Cukup murah sbg hp second yg bisa 3G, masih mulus, putih pulak.
Yang kedua, W800i dibeli tahun lalu (klo gak salah, udah lupa) second juga, masih mulus & baik. Gunanya buat telp/sms sama orang kantor (termasuk bos) dan motret2 sesuatu yg tak terduga (misalnya: plat nomer unik, skrinsyut saalh fkous, dll)
Yang ketiga (halah), Samsung CDMA yg tipis, warna item. Dibeli lewat Yiyit buat telpon2an sama pacar (saat itu).
2. Fasilitas 3G
Hanya di hp SE M600 yg ada fasilitas 3G. Malahan dari sebelum punya hp 3G, sudah mengaktivasi layanan 3G, hehehe. Gak pernah picture call, karena SE M600 ngga punya camera. Paling browsing-broswing aja sama ngecek imel (paling sering).
3. Wallpaper
Di SE M600 adl foto hasil editan potosop sendiri.
Di SE W800i adl foto diri sendiri, hasil editan Picasa.
di Samsung kagak ada wolpeper, cuman tanggal dan jam.
4. Nomor
Nomor utama pake Matrix. Nomer ini udah sejak pertama kali punya hp (pas itu SMA klo gak salah), dibeliin nyokap masih 100.000 perdananya. Search aja di blog ku, aku juga pernah cerita panjang ttg nomer Matrix ku. Nomerku ini sempet diblokir dan diterminate akibat males bayar tagihan (sayang2 duitnya di bank.. kan dapet bunga.. hahaha). Tapi begitu di terminate, minta tolong sama orang dalem buat make nomer itu lagi sebelum dijual dipasaran. Padahal bukan nomer cantik.
Nomer hp kedua adl XL. Ngga cantik, ngga hapal.
Nomer hp ketiga Fren, apalagi.. Emang Gue EGP!
5. SMS terakhir
Di hp pertama, dari bos lama, nanyain ttg kerjaan.
Di hp kedua, si Ririn minta dibawain bekal juga.
Di hp ketiga, entahlah.. kyknya iklan RBT Fren.
6. Spesifikasi
SE M600 aku suka karena kibor Qwerty. Biar bisa sms banyak, panjang, cepet. Jadinya ngga bisa sms-an sambil nyetir lagi. Kadang2 klo sambil nelp di mobil, dipasang speakerphone, atau dipasang ke aux tape mobil biar handsfree (tapi ngga pake blutut).
SE W800i aku suka karena membantu motret bila perlu. Ringtones mp3 hasil editan sendiri. Kalo ada telp masuk, foto nya keluar. Slim, warnanya bagus, ringan, cocok di saku jeans.
Samsung aku suka karena harganya murah, ada handsfree (ngga lagi deh pipi panas), tarif juga murah.
7. On / Off?
Hmm.. sejak kapan ya? Aku selalu ON. Sejak kuliah kyknya. Meskipun begitu, hp ku sepi ditelpon ternyata, hahaha.
8. Letak HP
Berhub hp ketiga jarang dibawa2, jadinya cuman 2 yg sering dibawa. Akibatnya aku mesti pake tas kemana-mana. Kalo pas mau males bawa tas, ya dibawa yg hp utama aja di saku jeans. Muat koq.
9. Batere
Batrei SE M600 rada-rada ngga tahan, jadi mesti bawa-bawa charger di tas. Walopun gitu jarang sekali ngecas di luar rumah, soalnya tiap 2 hari, malem pasti di cas. Tapi kan masih ada bek-up hp kedua kalo yg pertama mati.
10. Catatan
Yang paling penting dicatat adalah nomer-nomer penting untuk tagihan (KaVi, CBN, Indovision, Kartu Kredit), no rekening (travel langganan, temen, dll). Udah sih itu aja kyknya.
Tongkat estafet sementara belum dilempar karena sudah diburu-buru sama Ririn yg mau ke Tasik dan Tia yg mau ke Bandung, karena mereka ikutan nebeng pulang. Yasudee!
———————
Update:
Timpuk Mbu, Arham & Satrio ahh..