Sejak kecil rumahku penuh sesak dengan buku-buku beratus-ratus kepunyaan mama. Dia suka sekali baca buku.. khususnya beli buku. Mama ingin aku juga menyukai buku, jadi dia membelikan aku komik pada awalnya, supaya aku tertarik untuk membaca. Koleksi majalah donal bebek ku ada 2 dus besar di gudang, dan buku-buku bergambar, buku-buku pengetahuan, buku komik sudah memenuhi 2 lemari di rumahku. Tentu saja masih kalah dengan mama punya lemari buku memenuhi 1 sisi tembok sepanjang rumahku.
Kemarin aku ke Gramedia PIM sama Karina. Sudah berbulan-bulan aku tidak ke mall ataupun gramedia. Pada awalnya aku mau membeli komik detektif conan yang terbaru, ternyata masih nomer 40 (aku sudah beli), jadi aku beli komik detective school nomer 5, 6, 7. Penggambar komik ini sama dengan penggambar komik detektif kindaichi, yang kadang-kadang ada gambar-gambar betis mulus dimana-mana. Hehe. Lalu aku muter-muter lihat buku anak-anak bergambar karangan Richard Scarry, aku jadi ingat buku ku waktu kecil, sayangnya buku itu sudah hilang, jadi aku comot saja satu. Wah.. harganya 44.000.
Sambil menunggu kasir kosong, aku muter-muter di bagian sastra. Aku jadi ingat sebelum aku ke Singapore kemarin, aku beli bukunya Fira Basuki yang berjudul Pangil Aku Miss B. Buku ini menemaniku selama di Singapore, selama naik bis SBS ke Orchard Road, selama menunggu papaku untuk pulang ke hotel. Aku suka karangan Fira Basuki. Bahkan buku trilogi nya Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap pun mengingatkan aku akan Singapore (yah kan Fira sendiri tinggal di Singapore). *back to gramed* Aku langsung comot buku seri ke dua-nya “Miss B” (Will You Marry Me), lalu kuambil juga yang Rojak (settingnya Singapore), Biru (aku belum sempet baca), dan Saman - Ayu Utami (someone said to me to read this). Hah.. sudah banyak buku yang ku pegang, sampai staff gramed memberiku tas plastik untuk menenteng belanjaanku. Tiba-tiba mataku melihat Da’Vinci Code (yang terjemahan).. wah.. bestseller tuh! Duh, 68.000!! Belum lagi menghitung berapa harga buku-buku Fira yang sudah kuambil. Kucoba ambil juga deh.. aku pikir, jarang-jarang lah aku beli buku segini banyak. Sambil melewati kasir, mataku melihat buku dengan cover kartun lucu.. tentang astrologi. Tidak tahan aku untuk tidak mengambil.. *please deh golda.. hehehe*.
Sampai di kasir, aku tanya ke kasir untuk pinjam kalkulator.. damn.. 298.000!! akhirnya kurelakan buku Richard Scarry dan Da’Vinci Code, kupikir bisa kubeli lagi kapan-kapan. Karina sampai geleng-geleng kepala, dia kira aku mau menghadapi liburan, jadi beli buku banyak-banyak. Jadi total pembelian buku ku kurang sedikit dari 200.000. Hmm.. harus mengisi kembali dompet ini dengan tabunganku..
If you interested:
http://www.firabasuki.cjb.net/

My temporary tatto (bikin nya di Blok M yg emperan - gilee)
Selama sebulan aku berlibur dengan mama dan Tibi (my little bro) ke Yugoslavia, Hungary dan Singapore. Aku ingat di siang hari kita berangkat (pesawat kita malam hari) aku masih sibuk ngepak, sambil memamerkan tatto temporary yang baru aku buat kemarinnya.. bergambar bunga mawar di bahu belakang kanan ku. Perjalanan selama +/- 20 jam melewati Changi, Frankfurt dan tiba di Ferihegy (baca: Ferihej; Budapest, Hungary) membuat aku tidak sabar segera ke kampung halaman mama. Kita naik mobil melewati perbatasan Hungary dan Yugoslavia (di Tompa) lalu dilanjutkan sampai ke Zenta; ditempuh sekitar 3 jam. Bertemu dengan kakek dan nenek (mereka hanya tinggal berdua saja). Perjalanan kali ini adalah pertama kali bagi Tibi. Jadi semua di rumah itu adalah hal baru bagi dia. Aku langsung pilih kasur yang biasa ku tempati, mama sibuk ngobrol dengan mereka, Tibi melihat-lihat seisi rumah. Habis itu aku ajak Tibi untuk jalan-jalan di kota. Kota Zenta itu kota kecil, aku ngga tau berapa penduduknya, tapi yang aku tau kota ini hanya punya 1 pasar, 1 pom bensin, 1 pemakaman, 1 kolam renang, 1 kantor walikota. Untuk menjelajahi kota ini bisa dilakukan dengan bersepeda dan akan habis dalam beberapa jam. Kebetulan rumah nenek kakek ku dekat dengan alun-alun kota, jadi kita tinggal jalan kaki untuk ke tengah kota. Saat musim panas banyak sekali toko yang menjual es krim, anak-anak muda pasti ngumpul di kolam renang (seperti yang biasa kulakukan tahun-tahun yang lalu).

Tibi (my bro), Me, Mom, Anyu and Apu (that’s how I call them) :-)
Hari-hari di Zenta cukup membosankan bagiku. Teman-teman ku banyak yang liburan ke luar kota, ada juga yang malas bertemu dengan aku lagi. Yah.. bahasa magyar ku (bahasa yang dipakai di Hungary) tidak sefasih tahun-tahun yang lalu, membuatku tambah malas berkomunikasi. Hari-hari ku kuhabiskan di rumah (karena aku sempet sakit panas selama beberapa hari), malas berenang, malas keluar malam-malam, bahkan ke toko kelontong saja malas. Kali ini giliran Tibi yang menjelajahi semua tempat-tempat asik di Zenta. Seperti kolam renang (yang tahun ini kurang begitu ramai), toko-toko kecil, pasar tradisional (yang jauh lebih bersih ketimbang pasar mayestik – atau pasar tradisonal lainnya di Jakarta), resto pizzeria, resto Papuli (makanan khas Hungary), Csarda (baca: Charda) adalah pantai di pinggir sungai Tisza (baca: Tisa). Tempat-tempat ini semua sudah kujelajahi 2 tahun lalu. Aahhh.. mungkin aku lagi ngga mood menceritakan (maaf).

Tibi and Me at Vaci Utca – Budapest
2 minggu telah lewat, saatnya kita melanjutkan liburan kita ke Budapest. Aah.. kota besar! Sangat banyak bangunan-bangunan kuno, mobil-mobil aneh (yang pasti modelnya beda dengan yang di Jakarta). Banyak sekali resto-resto unik, café-café di pinggir jalan (open air!!), sungai Danube yang melewati kota Buda dan Pest (karena itu dinamakan Budapest). Kita naik subway (underground train) untuk nonton circus (Russia terkenal dengan sirkusnya yang kocak, dan tentu saja amazing!). Kita juga jalan kaki menuju suatu tempat bernama Csodak Palotaja (baca: Chodak Palotaya = Palace Of Wonder), aku bingung bagaimana cara mengartikannya, tapi isinya adalah rumah hiburan interaktif segala macam permainan (ataupun puzzle) yang dihasilkan rumusan fisika, kimia dan matematika.

Me and Mom at Csodak Palotaja – Budapest
Setelah seminggu di Budapest, kita terbang menuju arah pulang, tapi berhenti sejenak selama seminggu di Singapore. Kalian pasti berpikir tentang shopping! Haha.. aku tadinya juga begitu, tapi Singapore tidak hanya tempat belanja. Salah bila Singapore tempat belanja, karena barang-barang di Singapore itu mahal, daripada berburu barang murah di Mangga Dua ataupun ITC. Tapi yah.. kita belanja juga koq (maklum, kita kan cewek-cewek).
Selama di Singapore, mama mengajari aku dan Tibi memakai Eazy-Link Card untuk naik MRT. Kita tinggal di hotel dimana MRT station City Hall. Dari situ kita naik sekali dengan jalur merah ke Orchard Road. Nah, itu saja yang kita perlu hafal, katanya. Setelah itu, setiap hari mama pergi sendiri berburu buku-buku di Borders, Tibi ke Internet Café (warnet) untuk bermain CS atau browsing mainan seperti Lego di Raffles City, dan aku menjelajahi Orchard Road dari ujung ke ujung. Wah! Puas sekali jalan kaki (sayang di Jakarta tidak bisa bebas berjalan kaki). Ke Takashimaya, Paragon, Center Point, Sembawang CD Store, Borders, dan yang lain lupa namanya. Makanannya pun sesuai selera kita; tidak seperti di Zenta dan Budapest yang ayam dan daging melulu dengan rasa garam. Setiap pagi sebelum sarapan, aku menghabiskan waktu berjemur (sun-bathing) dengan bikini, biar pulang aku bisa memamerkan bikini-line ku. Tapi sayang, Singapore sering berawan, jadinya kedinginan melulu.. hihihi. Well.. intinya, kita bertiga sangat menikmati Singapore.
Cerita mengenai Singapore masih berlanjut, karena Nov – Des 2003 aku kembali jalan-jalan ke Singapore (dengan tour Malaysia – Genting – KL – Bangkok – Pattaya – Singapore) dan November 2004 juga ke Singapore selama seminggu (sangat mengesankan!).