Mellow day has begun.
Pagi ini sudah males bangun. Badan rasanya remuk karena tidurnya ngga nyenyak. Kyknya tempatnya terbatas, ngga bisa expand kaki ke segala penjuru. Pegel-pegel jadinya.
Mellow mulai terasa hari menjelang siang. Gara-gara aku telpon dia, jadinya malah berurai air mata. Sebenernya yang salah mungkin ya aku juga. Atau bisa diartikan, keinginanku yang aneh, tidak make sense, dan jadinya susah dihilangkan dari pikiran. Bingung? ya jelas.. kalian pembaca kan ngga tau duduk persoalannya.
Ketika aku telpon Andry.. duh.. jadi tambah nangis. Kesian dia yang ngga ngerti ujung pangkalnya jadi harus menenangkan aku yang tersedu-sedu. Akhirnya aku minta saran Tante Anne.
Lagi-lagi minta saran ke Tante Anne. Bukannya dia keberatan, tapi kyknya dia udah jadi pengganti my mom yang udah punya kehidupan sendiri. Rasanya aku ngga sudah ngga biasa lagi curhat sama my mom. Aneh saja.
Buat kamu, kamu tenang aja. Mungkin itu hanya emosi sesaat. Aku sudah lumayan normal lagi.
Kasihan aku sama air mataku yang deras mengalir. Mungkin terakhir aku menangis seperti ini sejak jaman smp dan sma. Perasaanku juga dilema persis seperti masa smp sma. Aku ngga suka dengan aku yang seperti ini, sebenernya. Pengen rasanya menghukum diri sendiri untuk tidak bersifat seperti ini, tapi emang itu bisa?
Yang ada, besok mataku bengkak.
Aarrhhhggg… surat babtis ku ketemu! Sialan banget deh. Gini gini.. aku ceritakan secara kronologis gmana ktemunya.
2 minggu lalu, telah disetujui bahwa rumahku yang lama di daerah Rempoa terjual sudah. Seminggu kemudian pembeli rumah (seorang pasutri yang belum dikaruniai anak) mentransfer DP-nya sebagai tanda jadi. Berhubung aku ngga ngerti jual beli rumah, persoalan ini ditangani oleh Tante Anne sebagai pengganti my mom. Sudah dari sebulan yang lalu tante tanya-tanya tentang akte kelahiran adikku yang sangat diperlukan dalam jual beli rumah ini, karena rumah ini atas nama adikku. Entah bagaimana surat-surat berharga mom hilang saat pindahan dari rumah Rempoa ke rumah yang sekarang, 4 tahun yang lalu. Since then, my mom tidak melakukan apapun kecuali menggunakan fotocopy dari surat-surat penting tersebut. Benar, my mom memang slebor, just like my bro. Luckly, I’m not.
Kebayang dong gimana mahalnya bagi Tante Anne untuk mengurus kembali surat-surat tersebut, membuat kembali, laporan hilang dari polisi, dsb dsb. Sampai sampai liburan kami ke Singapore kemarin juga masih terlihat ke-stres-an dari wajah Tante Anne, menghadapi my mom yang sudah ingin melupakan persoalannya di Jakarta, dan menikmati hidup barunya di Singapore. Kadang, kita kesel banget sama mom karena tidak peduli dan tidak berinisiatif membantu mencari surat penting tersebut. I mean, surat-surat penting itu termasuk akte kelahiran aku, adikku, mom sendiri. Juga IMB rumah Rempoa, dan surat-surat penting yang berhubungan dengan rumah Rempoa. Jangan ditanya bagaimana kita mengatasi itu semua selama 4 tahun tanpa surat aslinya :p
Berhubung pembeli rumah Rempoa sudah membayar DP, itu artinya kita harus singkirkan semua.. i mean.. SEMUA barang dari rumah Rempoa. My mom itu seorang yang paling malas membuang barang, apalagi barang yang penuh memory. Tiba-tiba aku menyadari, my mom tiba-tiba mirip denganku, haha. Jadi, barang-barang masih banyak tertinggal di rumah Rempoa, dari mainan dan buku adikku ketika balita, mainanku ketika masih SD-SMP, barang-barang mom yang sudah tidak menarik baginya, sofa bulukan, kulkas yg sudah tidak menarik, vacoom cleaner rusak, kasur nganggur, bunk bed yg baru dipakai sekali saja, dan masih banyak barang-barang kecil lainnya yang susah disebutkan.
Nah, berhubung senin adikku sudah mulai masuk sekolah, maka sejak seminggu terakhir ini kami sudah merencanakan untuk pindahan barang-barang tersebut ke rumah sekarang, mumpung masih ada tempat walopun akan jadi sumpek. Supir kami minta masuk hingga hari minggu, workers lainnya kami minta lembur untuk mengepak, menelpon teman yang butuh menampung barang-barang bekas yg masih layak pakai, dll.
Seperti tadi siang, dus-dus tetap masih berdatangan dengan label isi barang mom, aku, adikku, dll. Kusempatkan membongkar walking closet mom. Sejam kemudian.. kita menemukan dus yang berisi semua surat penting yang sudah kita cari-cari selama 4 tahun. Rasanya ingin teriak. Dus itu terletak dekat dengan pintu, hanya saja sudah di tumpuk dengan dus-dus lainnya. Ah sudahlah.. memang Indonesia terkenal dengan sogok menyogok, tapi sekarang kita bisa berpuas lega karena kita punya surat aslinya.
Dus-dus terakhir datang ketika hari menjelang malam. Aku tadinya ingin mencari skripsi kakaknya temanku yang harus kukembalikan karena dia perlu untuk lamaran kerja. Besok harus sudah kukasih. Tapi aku melihat dus kristal-kristal mom yang rasanya takut pecah aja kalo ditaruh di lantai begitu saja bersama dengan dus lainnya. Walopun dengan badan capek, aku siapkan air hangat dan sabun cuci piring untuk merendam gelas-gelas kristal mom. Ketika sudah kering, aku mulai menaruhnya dalam lemari dekat dapur yang tadinya adalah tempat rak bukuku. Ketika aku menaruh gelas terakhir (total gelas kira-kira 50 pcs) aku baru menyadari di rak paling atas dari lemari buku ternyata masih tertinggal 1 baris buku-buku yang belum dipak. Tiba-tiba mataku tertuju pada 1 buku putih. OH MAI GOT! Itu kan buku puisi pastor yang membabtisku. DAN DIDALAMNYA KUTARUH SURAT BABTISKU. Aku teriak! Sungguhan!
Ah dasar sial. Gajah di depan mata koq ngga kelihatan. Ya mungkin itu rasanya mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Makin dicari, makin panas suhu kepala.. makin susah menemukan dengan akal sehat. Toh akhirnya ketemu juga.