Kalo hari ini tanggal 15 Juni 2006, apa yang pertama kali kamu ingat? Persis seperti tahun lalu, aku pasti ingat si cowok cakep di Bali yang pasti menggunakan tanggal lahirnya untuk domain dia. Memang narsis, walopun tahun ini dia tidak begitu narsis dengan hanya memposting 1 lirik lagu dan tidak membuka comment-nya.
Tahun lalu, aku ingat ulang tahun Dental (yang saat itu aku bahkan belum tahu nama aslinya) setelah sehari atau dua hari. Aku belum rutin berkunjung di ‘rumah’nya saat itu. Aku kenal link url nya dari Andry. Di comment postingannya yang Dental publish tanggal 15 Juni itu sudah banyak yang mengisi (terlihat sekitar 100-an lebih). Begitu ku buka, ah.. isinya spam dari Andry dan Nana yang merayakan ulang tahun Dental dengan sahut-sahutan sehingga menjadi membludak. Lucu sekali. Aku baca satu persatu! Aku juga meninggalkan ucapanku sampai dua kali.
Tahun ini entah kenapa dia merasa kurang cukup narsis untuk tidak posting tentang hari ini (mungkin aku juga deh, nanti), tapi aku bangga menjadi yang pertama untuk menelpon dia tepat jam 12 malam WITA. Meskipun tidak begitu semarak dengan keramaian, aku harap kamu bisa menikmati hari ini spesial karena setahun sekali.
- Mudah-mudahan wish mu di kabulkan sama penguasa di atas sana.
- Oh ya, selamat menikmati warna rambut barumu yang berwarna ungu tua.. err.. fotonya boleh ku publish di sini ngga? Hihihi.
- Bagi yang ingin memberi selamat kepada Dental, boleh di arsipkan di postingan ini. *wink*
mwah!
Updated:

Dan ini dia cache google postingannya setahun yang lalu. Thx Dearie.
Tepat tanggal 29 Mei kemarin seusai pulang dari warnet yang sempat chatting dengan sedih, ketika aku jalan kaki tiba-tiba terdengar suara menangis seekor anak anjing di dalam basket sepeda yang sedang bersandar di depan toko. Anak anjing itu kedinginan dan gemetar sambil nangis. Kasihan memang. Tanpa kupikir panjang, segera aku hangatkan badannya dengan tanganku. Sambil mencari-cari yang punya, aku menoleh kiri kanan, lalu datanglah seorang ibu muda yang punya sepeda. Dengan sedikit bicara, (dia malah sempat mengajak aku ngomong bahasa Serbia yang aku tidak ngerti sama sekali) akhirnya anjing itu jadi milikku. Rupanya dia juga baru menemukan anak anjing itu setengah jam yang lalu entah dimana. Uh.. apa kata nenek nanti kalau anjing di rumah bertambah 1 lagi?
Di perjalanan pulang aku berpikir, bagaimana menghadapi nenek, bagaimana menghangatkan anak anjing, memberi makan apa, ras apakah, bagaimana membersihkan kotor kaki anak anjing dari jaketku (uh.. di sini gak ada laundry), dan.. mau dikasih nama apa? Hihihi.. Ku beri nama dia Puddy.
Setelah melewati nenek (Puddy berhasil membuat nenek kasihan dengan tatapan memelas penuh berkaca-kaca dan lucunya lompat sana lompat sini), mulai mengajari Puddy untuk tidak boleh masuk dapur atau dalam rumah lainnya. Ketika besoknya aku ingin pergi pun dia mengikutiku jalan sampai gerbang, dan ketika ditutup dia malah menangis memanggilku (uh..).
Puddy mulai berteman dengan Bobby (anjing betina dewasa yang sudah dipunyai nenek selama 3 tahun) dan tidak selalu mengikutiku, sambil mengekspolrasi seluruh taman nenek. Entahlah, sepertinya Puddy adalah anjing jantan, dan beruntunglah Bobby dengan daun mudanya (kelak). Puddy bisa bermain gigit leher dengan Bobby, dan sebaliknya, atau berkenalan dengan ke-6 kucing nenek, atau suka ngikutin nenek ketika keluar dari dapur. Puddy juga suka menapakkan kedua kaki depannya ke kakiku, kaki nenek, akibatnya celanaku jadi kotor karena telapak kakinya. Iya, aku harus mengajari yang satu ini.
Sepertinya Puddy anjing kampung eropah biasa (walopun nenek insist dia adalah jenis Fox-Terrier) dengan bulu agak panjang dan moncong berjenggot sedikit. Jadinya, Puddy sering terlihat menggaruk lehernya. Uh, termites, parasites, dan semua kutu anjing! Kasihan juga kecil-kecil sudah menderita untuk garuk sana sini.
Pagi tadi aku ingat untuk mampir ke pet shop, aku beli dog shampoo seharga 260 dinar. Sebelum aku ke warnet siang ini, aku curi-curi waktu saat nenek tidur untuk memandikan Puddy di kamar mandi (kalau nenek sampai tau, dia pasti ngamuk dan ngomel sepanjang sungai Danube!). Oke, siapkan pemanas ruangan kamar mandi (udara di luar masih dingin sekitar 20 Celcius), hair dryer, shampoo, copot jam tangan. Aku tidak menemukan kain yang tepat untuk Puddy, yasudah harus puas hanya dengan hair-dryer.
Aku yakin tidak satupun anjing (maupun kucing) suka dimandikan, seperti halnya Garfield selalu punya seribu akal untuk kabur dari Vet. Puddy cukup diam ketika dimandikan. Pertama, basahi lehernya dan langsung beri shampoo di bagian leher. Garuk-garuk leher hingga busanya banyak. Cukup lama sekitar 5 menit aku menggaruk dan aku sudah mendapat banyak kutu yang masuk dalam sela-sela kuku tanganku *yuck*. Mulai menyabuni bagian badannya, aku juga dapat banyak kutu di bagian dadanya. Kenapa leher dulu yang disabuni? Supaya kutu yang sedang pesta pora di bagian badan tidak kabur ke arah telinga Puddy.
Pokoknya sambil menyabuni sambil menggosok, sambil menyabuti kutu yang mati dan muncul di permukaan bulunya. Huh, banyak banget! Sekitar 50 kutu ada mungkin. Mau jijik bagaimana lagi, aku mesti tanggung jawab dengan Puddy yang kubawa ke rumah, mau tidak mau. Dan proses menyabuni-membilas dilakukan sampai tiga kali, sampai aku tidak melihat ada kutu lagi di badan, leher, kepala, atau permukaan bulu lainnya. Ketika mengeringkan bulu-bulu, tetap ada kutu-kutu yang satu persatu jatuh dari bulu keringnya.
Ketika aku balikkan ke luar (bulu di kepala, leher, badan dan punggung sudah kering, kecuali kaki-kakinya) Puddy langsung menuju tembok yang kebetulan tidak rata, untuk menggaruk. Uh-oh, masih ada kutu rupanya. Dia menggaruk bagian telinga (Ha!). ketika ku cek telinganya sih tidak terlihat ada kutu, tapi aku rasa beberapa kutu (sedikit mungkin) sudah masuk cukup dalam untuk menyelamatkan diri, dan aku tidak tahu harus bagaimana kecuali melihat sedih dan kadang tertawa karena cara dia menggaruk sampai berputar badannya.
Syukurlah sebentar kemudian Puddy sudah normal lagi dan bermain-main lari-larian. Mudah-mudahan Bobby cukup rajin membersihkan diri sehingga tidak memproduksi kutu juga. Ketika aku jalan kaki menujur gerbang, Puddy masih mengikutiku. Tapi ketika aku ingin menyentuh kepalanya, dia sudah kabur jauh-jauh. Hahaha.. Puddy takut padaku.
Berikut foto Puddy yang ternyata lihay bergaya ketika di foto.