9olda.net
May
18

Freak In Net World

Seberapa lama jam terbangmu di dunia maya, aku yakin kamu belajar sesuatu hal yg penting ini. Pelajaran pertama, jangan memberikan detail informasi pribadimu di internet. Hal ini bisa berupa alamat rumah, nomor telpon, dan mungkin yang termasuk pribadi bagi orang lain seperti nama lengkap, tempat kerja, tanggal lahir, dll. Pernahkah orang lain memberitahu hal ini padamu? Jika pernah, beruntunglah kamu.

Pengenalanku dengan dunia maya tidak luput dari pengawasan my mom. Dia yang memberitahukan hal di atas tadi padaku. Karena itu, aku membuat nick untukku. Dengan nick itu, aku bisa menjelajah dunia seperti layaknya orang biasa, bahkan orang jahat sekalipun. Dengan nick ku, aku bisa mengaku siapa saja, apa saja, dimana saja, tergantung imajinasiku.

Aku mulai menggunakan nama asli sejak friendster.com muncul. Karena disana ada teman-temanku di dunia sungguhan (bukan dunia maya), maka mau tidak mau aku menggunakan real character. Sejak itu, dimulailah pengenalan dunia maya dengan my real name. The real me.

Setahun, dua tahun, hmm.. oke lah. Aku pikir langkahku masih aman. Aku belum bertemu freak people. Tentu, aku membatasi cara kontak komunitas dunia maya dengan dunia sungguhan. Aku meminimalisasinya. Ketika aku memasuki komunitas milis yang besar dan yang kupikir aman (ah, aku terlalu naif), aku menemukan freak people itu.

Seperti virus! Kalau masih satu saja, dia akan bersembunyi. Tapi ketika dia menemukan teman, dia mulai unjuk gigi dan merajalela. Naluri manusia tidak jauh dari situ. Yeah, I get it. Hmpff..

Di titik itulah aku memutuskan, oke, my mom still right about this. Tapi sekarang, virus itu sudah masuk dlm tubuhku. Bagaimana cara mengeluarkannya? Seperti yang kalian tahu, membasmi virus tidak semudah membasmi bakteri yang dengan hanya penisilin, bakteri (living thing like us) bisa mati. Virus itu berbeda. Spreading symptom-nya beda. Maka, kamu harus melakukan cara yang berbeda juga dengan virus.

Sayangnya, membasmi virus supaya tuntas bukanlah cara yang bisa dilakukan. Sekali terkena virus, kamu akan hidup dengan virus itu. Yang bisa kamu lakukan adalah meredamnya sehingga dia tidak bisa unjuk gigi atau menganggumu. Nah, di sini lah kita belajar bagaimana berstrategi dengannya. After all, you have brain to use and power to gain.

Tahun 2000, temanku di Senta, Norbique Szentner sudah lebih dulu menjelajah dunia maya. Dia bercerita, Norbi berkenalan dengan seorang netter dari Jerman. Cukup lama berchatting, akhirnya mereka memutuskan untuk bersua. Norbi ke Jerman (aku lupa di kota mana) untuk seminggu. Kenyataan bahwa Jerman Netter ini kakinya lumpuh karena kecelakaan, sejak itu dia menghabiskan waktu di depan dunia maya sambil menerima uang sosial dari negara. Sehari dua hari, Norbi merasa tidak nyaman entah karena Jerman Netter ini menginginkan lebih dari Norbi atau apa, Norbi kurang jelas mendeskripsikannya. Akhirnya Norbi pulang lebih cepat.

Rupanya kepulangan Norbi membuat Jerman Netter tersinggung, sehingga dia melakukan serangan balik. Nomor telpon rumah Norbi ditelpon setiap 5 menit. Ketika di angkat, dia memaki-maki bahasa Jerman, dan itu sudah berlangsung selama 2 tahun (entah bagaimana sekarang). Norbi tidak bisa mengganti nomer telponnya karena di Senta itu sudah tidak bisa menambah, mengganti, ataupun menghapus nomer rumah baru. Saat itu, nomer telpon celaka itu selalu berdering tiap 5 menit (termasuk tengah malam), jadi tidak bisa dihubungi oleh kenalan keluarga Norbi, hanya bisa dipakai keluar saja. Begitu merepotkannya seorang freak in net world. Bagaimana bila ada banyak?

Aku percaya, cobaan apapun, aku pasti bisa menghadapinya. Tinggal seberapa cerdas strategi kita untuk melewatinya. So, wotch yer back, y’all.

Dear my freak-in-net-world, I know you’ll read this. *wink* Aku yakin kehebatanmu dalam ber-provokasi di kampung orang lain tiada duanya. Tapi aku lebih yakin lagi bahwa ada tempat yang lebih layak untuk skill mu, dan itu bukan di kampung gajahku.

Salam sayang, mwah!

May
15

Too Much Thinking

Me In Post OfficeCukup aneh tentang apa yang kupikirkan ketika masih wondering-around (pikiranku) sebelum tidur. Seperti malam ini, nenek tanya padaku, apakah aku menikmati ketika berada di Senta bersamanya. Jujur saja, di sini cukup membosankan secara kota kecil dibanding kehidupanku di kota besar, sumpek, seperti di Jakarta (duh I miss Jakarta, apalagi keaneka ragaman makanannya). Maaf nenek, bukan aku tidak suka, tapi kalau cuman untuk liburan saja sih oke lah, untuk tinggal dan menemani nenek, uhh.. coba saja aku menikah dengan Kori, aku pasti akan selalu berada di dekat nenek. Hihihi, koq jadi bawa-bawa Kori.

Dulu, aku putus hubungan cinta dengan Kori memang karena LDR. Ketika summer 2002 seharusnya aku ke Yugo, tapi bentrok dengan program semester pendek yang tidak mungkin aku lewatkan (karena akan memperpanjang masa kuliahku, bisa jadi lebih dari 3 tahun), Kori yang juga tidak suka dengan jarak antara kita, membuat kami bertengkar dan akhirnya saling diam. Tepat ketika summer 2002 berakhir, kita memutuskan untuk putus.

Kemarin kami sempat ngobrol secara teman, dia sempat mention, bahwa problem kami adalah bahwa aku terlalu banyak berpikir dalam hubungan kami. Aku terlalu memikirkan kakek nenek ku yang kurang menyukai Kori karena Kori hanya lulusan d3 pariwisata sedangkan aku akan mengambil sarjana, sehingga membuatku ragu padanya. Menurut mereka, hal ini akan berpengaruh pada future kami kelak. Mamaku sendiri tidak begitu ikut campur karena berkat aku berhubungan dengan Kori, maka aku bersedia sering ke Yugo untuk sekalian menengok kakek nenek.

Entahlah, aku pikir apa kata kakek nenek ku bisa jadi benar. Aku tidak berani memutuskan bahwa mereka 100% benar karena aku tidak punya buktinya. Aku juga tidak bisa bilang bahwa pasangan suami istri yang tingkat pendidikannya sama, akan baik baik saja, atau yang tingkat pendidikannya berat sebelah akan bermasalah. Aku belum tahu jawaban dari pernyataan itu.

Beberapa kali aku melihat hubunganku sesudah Kori, aku juga belum menemukan formula yang tepat bagaimana cara mencari eligible suami buatku. Tentu saja tiap orang berbeda kriterianya, tapi kalau aku ditanya kriteriaku, jujur saja, aku tidak tahu pasti. My mom pernah memberikan contekan untukku. Katanya, suami yang cocok untukku adalah: pertama, yang sayang padaku (kadar sayangnya harus lebih besar dari aku ke dia, karena nantinya pas menikah, aku pasti akan devoted ke suamiku kelak). Kedua, yang bisa menjadi partner ngobrol di segala suasana (menjadi teman, sahabat yang support, kakak yang melindungi, adik yg manja, guru yang bijak, maupun kekasih) termasuk di atas meja makan dan di atas tempat tidur. Okelah, ngobrol atau berkomunikasi bagiku tidak begitu ada masalah, secara aku sendiri chatter, terbuka, cerewet, doyan ngobrol dan bercerita. Ketiga, bisa menghidupiku dan keluargaku (aku, suami dan anak) kelak. Otomatis, disini kita berbicara masalah materi.

Issue tentang materi sangat peka dibicarakan. Kalo seperti kata orang dewasa bilang, kamu tidak bisa menikah hanya bermodalkan cinta saja, karena kamu tidak akan makan cinta setiap hari. Materi.. uh.. ada yang punya formula tepat untuk issue ini?

Kembali lagi ke komplain Kori. Benarkan aku terlalu banyak berpikir? Atau paling tidak, terlalu memikirkan apa kata orang lain, sehingga keinginan terdalamku malah tidak terlihat? Could be.

JMS pernah berkata, bahwa saat ini aku belum fokus pada masa depanku. Apakah aku mau mencari pacar atau suami? Apakah aku mau tetap mau kerja di tempat kerjaku sekarang? Apakah aku tetap mau tinggal di Jakarta atau pindah kota?

Dengan kesendirianku di rumah, semua itu tergantung pilihanku. Aku dihadapkan kepada pilihan hidup yang resikonya tidak kecil. Pilihan mana yang akan aku pilih, akan menentukan masa depanku kelak. Uh huh, it’s very hard, for me.

Aku bisa saja memutuskan untuk menikah sekarang. Aku bisa saja memilih calon suamiku sekarang. Aku bisa saja memilih ingin tinggal di manapun terserah mauku. Aku juga bisa saja meninggalkan pekerjaanku dan yang lain. Semua tergantung pilihanku. Damn, tidakkan itu semua sangat berat untuk dipikirkan dan sulit untuk dipilih? Bagaimana jika pilihanku salah? Bagaimana bila akhirnya aku menyesali pilihanku? Benar kata Kori, aku terlalu banyak berpikir.

Untung saja aku belum menemukan 1 helai uban di kepalaku.

Nb: Menurut tanggalan internasional, kemarin, 14 Mei, adalah Hari Ibu Sedunia (kecuali Indonesia di tanggal 22 Des). Happy Mom’s Day, Mom.

Pages (5): « 1 [2] 3 4 » ... Last »
free web site hit counter