diary of golda

About | Archives | Lyrics | Flickr | 365 Days
Ah, it’s time to relax. Lean back and and just enjoy the melodies. After all, music soothes even the savage beast.

Likewise..

Likewise
May
27

Senta: Calm City

Posted @ 8:08 pm - View Comments (16) -

Sudah lebih dari 2 minggu aku melewati hariku di Senta, SCG (Serbia Crna Gora : Serbia Montenegro). Hayah.. namanya bukan Yugoslavia lagi. Senta itu kota kecil, hanya ada 1 pom bensin, ada 1 taman kota pas di depannya City Hall, ada 1 kantor polisi, 1 pemadam kebakaran, 1 rumah sakit, 1 library, 1 pasar tradisional, 1 ruang theater, 1 bioskop, 1 kedutaan Hungary (kecil sih, soalnya deket perbatasan), dan semua itu berada di tengah-tengah kota Senta-nya.

Anggap saja Camdig ku rusak, jadi jangan minta skrinsyut.

Kebetulan rumahku tidak jauh dari tengah kota itu. Bagiku, jalan kaki (setiap hari) ke tengah kota untuk beli voucher hp, fresh strawberries untuk sarapan, bir buat nenek, roti, sayuran dan daging untuk lunch hari ini, ataupun jalan ke warnet itu enakkk banget. Di Jkt, jalan kaki pakai hotpens mana bisa? Paling juga hanya bisa dilakukan di mall (itupun tanpa hot-pants). Uhh.. membosankan.

Mudah-mudahan betisku tambah berotot ketika aku pulang. Dan juga badanku jadi agak kurusan + sekel.

Selama di Senta ini, bahasaku dengan nenek pakai bahasa Hungary dengan pelan-pelan. Tiap tahun aku kembali ke Indo, pasti akan lupa karena tidak pernah di pakai. Tapi begitu balik lagi ke sini, semua terasa ingat kembali. Buktinya, aku pun bisa jalan di pasar sendiri dan beli ini itu. Oh ya, berantem mulut sama nenek pun masih bisa dijabanin. Hihihi.

Nenek, ah.. senangnya punya 2 nenek (dari bokap dan nyokap) yang paling sayang sama cucunya yaitu aku. Kedua nenek ku gemuk! *mesti hati-hati nih, karena punya kecenderungan gemuk suatu saat nanti*. Nenek ku yang di Senta ini doyan makan. Masak pun jago. Rajin cium pipiku tiap pagi hari dan saat-saat tertentu. Mamaku saja sangat jarang cium pipiku :p. Tapi jangan harap bisa lolos dari kemarahan nenek kalo keinginannya gak diturutin (ah, jadi ingat sifat diri sendiri yang juga kyk gitu.. hahaha). Mama bilang sendiri, sifat ku dan sifat nenek itu banyak sama nya. Tapi aku bilang, kita bertiga (nenek, mama dan aku) semua mirip koq. It runs in our gene!

Kemarin hari jumat, seharian aku tidur. Memang kegiatanku sekarang lagi menghabiskan 7 buku Narnia. VCD Tokyo Love Story sudah susah diharapkan untuk bisa di tonton di leptop karena cd-nya kepanasan lalu melengkung *halah*, dan DVD lainnya sudah di tonton (malah ada yg bawa casingnya, tapi isi DVDnya malah gak ada *b.o.d.o.h*). Aku lagi melihat tanggal, wuih, 2 minggu lagi aku pulang sampai di Jkt. Pasti bedaaaa banget sama disini.

Senta itu kota tenang. Tidak ada kegiatan yang hectic disini. Semuanya serba tenang dan kalem. Banyak toko-toko kecil menjual baju, alat-alat mancing, bertani, kios kecil, cafe-cafe pinggir jalan (open air), es krim (ah.. enak banget es krim rasa lemon). Bahkan ada toko khusus jual kaos kaki dan stocking lucu-lucu motifnya (sayang, stocking warna warni lagi gak musim di Jkt).

I wonder, pasti begitu aku pulang ke Jkt, harus menghindari yang namanya jam macet, parkir sana sini bayar, kemana-mana hitungannya jam-jaman, mau pergi ke beberapa tempat harus dipikirkan rute nya, harus balik kerja lagi (hihihi.. can’t get away from this one), harus mengurus rumah dan sibuk di internet sepanjang sore-malam. Hectic!

I wonder, again, ada gak yang kangen sama aku di Indo? Yang menungguku pulang.. Yang menunggu oleh-oleh.. Yang menunggu untuk melepas rindu padaku. Yang membutuhkan ku (kantorku mungkin).. Hihihi..

Andry Huzain: gimana kabarnya gol
Golda: baik2 saja
Golda: disini sih tenaangggg banget
Golda: gak kyk di jkt
Andry Huzain: iya iya… tapi cepetan pulang ke indo. kamu keluar negeri, indo udah gempa 2 kali
Golda: bener juga
Golda: *berasa dibutuhkan di Indo*

May
22

Aku, Peninggal Jejak

Posted @ 9:10 pm - View Comments (24) -

Menjadi seorang Golda, agak unik. Tidak mau menjadi trend setter, tapi juga tidak mau ketinggalan jaman. Tidak berani presentasi saat sidang, tapi bisa menjadi pembuat topik dalam arisan. Tidak mau disamakan, tapi juga tidak mau terlalu berbeda dengan sekitarnya. Karena itulah, aku mempunyai kecenderungan meninggalkan jejak. Ngga nyambung? Ngga papa.

Aku masih ingat, semasa SMA ku, aku suka mencoret mejaku, menulis indah, mengukirnya dengan penggaris besi, meliukkan huruf menjadi namaku. Ketika aku berpacaran dengan Yosi, setiap aku mempir ke kantornya, tidak lupa aku menulis “Golda was here” di papan white board di ruangan itu. Besoknya, Mbak Yanti telpon aku, “Golda main ke kantor koq pas aku lagi tugas keluar sih?”. “Lho, Mbak Yanti tau aku dateng dari mana?” kataku. Mbak Yanti: “Nah itu dari tulisanmu di white board”. Hihihi, aku saja sampai lupa.

Ketika aku bertemu dengan Kori di rumahnya, hanya dengan sekali pandang aku bisa menemukan jejak yang kutinggalkan. Boneka Kenny-South Park dariku, botol parfum dariku yang jadi pajangan, foto Kori yang kupotret dan ku-pigura, bahkan botol sambel yang waktu itu kuhabiskan selama sebulan di Yugo pun masih mereka simpan karena unik (tidak ada di Yugo). Lucunya, beberapa hari sesudahnya aku mampir lagi untuk bertemu dengan ayah dan ibunya (Kori sedang tidak ada saat itu), aku meminjam sebentar kamus Hungarian-English kepunyaan Kori, aku menemukan sticker “Miss You” masih ada disana. Diam-diam aku tertawa saja melihat ulahku.

Aku jadi ingat, Kanchi pernah cerita pada Rika Akana (Tokyo Love Story) bahwa dia pernah menulis namanya di tembok sekolahnya ketika ia lulus. Aku juga meninggalkan coretan di tembok sekolah. Bukan sekolahku, tapi sekolah Kori. Temukan saja graffitti nya di foto bawah ini.

graffitti

Kemarin aku kesampaian jalan kaki di atas dam (dam yang dibangun di sisi sepanjang sungai Tisza dan kota Senta). Dam ini berupa timbunan tanah yang cukup tinggi, dan di atasnya bisa dibuat jalan kaki bahkan mobil bisa lewat (jika diperlukan). Di sepanjang dam, yaitu dari tengah kota Senta melewati samping hutan kecil Népkert, melewati satu-satunya kolam renang, hingga jalan menuju Csarda (pinggir sungai yang pasirnya seperti pasir pantai) terdapat sumur tua yang sudah tidak dipakai. Di atas sumur itu (bisa di duduki) aku pernah menghabiskan beberapa jam ngobrol saat pdkt dengan Kori tengah malam. Aku meninggalkan permen karetku di tiang lampunya, kutempel dan kubentuk jadi bentuk hati. Ketika itu summer 2000. Kemarin aku cek, masih ada!

Kebiasaan meninggalkan jejak ini mungkin pernah kamu perhatikan. Entahlah, mungkin hanya coretanku di tas ransel, barang-barangmu yang kuberikan/beli bersamaku, kemeja merah marun yang sering kamu pakai, … kamu lirik saja, mungkin kamu bisa menemukannya.

Untuk kekasihku, kamu pasti bisa menemukan jejak itu di kamarmu. Aku menulisnya dengan tanggal. Bloody missing you!

bawalah daku bersama ke dalam setiap langkahmu
di manapun kau berada, rinduku smakin meraja
kangen aku padamu
tiada akan dapat ku obati, tanpa kunikmati.. senyummu
(senyum di wajahmu)..

free web site hit counter