Suatu siang yang cerah..
*lagu Samson - Kenangan Terindah berkumandang dari K700i*.. oh brati kantor nih yang telpon..
Me: “Ya, Rin?”
Ririn: “Jeung, si Pak Denis nelp gw nih.. nyariin elo”
Me: “Ohya? Bilang apa dia?”
Ririn: “Ya.. dia nanya, knapa Golda gak masuk. Gw bilang.. gak tau. Trus dia bilang suruh cari tau, makanya nih gw telpon elo. Kangen kali dia ma elo.. *giggling*”
Me: “Aduh pulsa gw lagi tiris gak bisa nelp, gw sms aja deh. Yawis.. tengs yah”
*klik*
*mulai mengetik sms untuk si Boss*
Me wrote: “Tadi nyari aku ya, Pak? Ada apa? Aku di rumah, lagi ngurusin barang-barangku untuk pindahan. Kebetulan di kantor lagi gak sibuk, jadi aku sempet-sempetin ngurusin pindahan ini. Bulan lalu kan aku sudah pernah bilang ke Bapak.”
*sent*
Boss reply: “Oh iya ya? Wah, kalo saya ngga diingetin jadi gampang lupa. Enggak ada apa-apa sih. Ya sudah, at least kalo saya ditanya sama bos laennya, kan bisa jawab.. hehehe.”
Ohmaigot.. bosku juga amnesia..
Wikenku kemarin kuhabiskan bersama Sherly, menginap di rumah Mira di daerah Pinangsia, Ancol. Mamanya Mira ini saudara sepupu ayahku, jadi Mira bisa dibilang saudara jauh. Mira sendiri 2 tahun dibawahku, hari ulang tahunnya sama dengan Sherly. Kakaknya Mira, Maya, yang seumur denganku, sudah menikah dan sedang hamil anak kedua di Purwokerto.
Kumpul bersama mereka jadi ingat saat aku masih SD, masih di Malang, masih bertemu dengan mereka bila ada yang ulang tahun, dll. Sekarang sudah beda, apalagi Maya yang sudah menikah. Otomatis topik kami tidak jauh dari itu.
Tante menceritakan kerepotan saat Maya memutuskan untuk menikah. Dari persiapan, biaya, prosesi tunangan dan pernikahan. Belum lagi termasuk hubungan dengan besan yang notabene tidak kenal sama sekali, dan rasanya ditinggal oleh anak pertamanya untuk tinggal dengan keluarga suaminya. Sedih dan berat rasanya. Kami bertiga mendengarnya seakan tidak habis pikir bahwa perkawinan bisa membuatmu sangat stress dan kuatir.
Ketika Maya memutuskan untuk menikah dengan alasan bahwa keluarga calon suaminya itu di Purwokerto, dan dia tidak mau LDR. Karena itu keputusannya untuk menikah dipercepat tanpa ada waktu baginya untuk kenal dengan calon mertuanya.
Cerita berlanjut ketika Maya sudah menikah, dan baru pindah ke Purwokerto, kota yang bahkan lebih kecil dari Malang, penuh dengan tangisan tidak kerasan. Salah satunya adalah hubungan dengan mertua. Bukan mertuanya galak, tapi rasanya susah sekali beradaptasi ketika lingkungan kurang mendukung. Bahkan ketika anak pertamanya telah lahir, sang opa oma pun masih belum menaruh perhatian pada Maya dan si bayi.
Sekarang ini, kehidupan Maya sudah baik. Oma dan opa si anak pertama sudah cinta mati dengan sang cucu, begitu pula kepada Maya.
Banyak yang kupikirkan setelah mendengar cerita sepanjang wiken ini. Pikiranku berlari sendiri bolak balik. Banyak pertanyaan yang muncul tetapi tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Takut? Tidak juga. Bingung? Iya. Tapi apa yang harus disiapkan? Mental? Aku yakin, bila aku memikirkan hal ini terus, kegiatanku pasti terganggu. Lebih baik biarkan hal ini mengalir sesuai dengan jalannya. Aku yakin sampai pada waktunya, pertanyaanku akan terjawab dengan naluriku sendiri.