9olda.net
Nov
19

Mengenang Lagu Sanggupkah Aku

Sanggupkah Aku - Ita Purnamasari (1991)

ada rindu di hatiku
kini sedang mengganggu
mengganggu lamunanku
hingga aku, ingin jumpa denganmu..

aku hampir tak percaya
menghadapi semua
semua kenyataan
yang terjadi, dan menyayat di hati

sanggupkah ku menghadapi
hidup ini tanpa dirimu
mengapa begitu cepat, engkau pergi
tinggalkan aku, sepertinya aku bermimpi

kini tinggalah kenangan
yang tak mungkin kulupa
dan doaku untukmu
smoga saja, kau disana, bahagia..

***

Lagu ini booming di awal tahun 1991. Yang kuingat, ada beberapa kakak kelas (setahun diatasku) yang ikut dalam mobil antar jemputku ke sekolah Santo Yusuf di Malang. Hanya ada 2 nama yang kuingat, Ivan dan Fredy. Fredy memang sempat melantunkan lagu ini yang langsung di serbu dengan caci maki lelucon oleh Ivan dan teman-temannya sebagai lagu cengeng. Setelah itu, mereka sempat membahas lagu yang baru keluar ini, yang lalu kuingat-ingat liriknya..

kini tinggalah kenangan
yang tak mungkin kulupa
dan doaku untukmu
smoga saja, kau disana, bahagia..

Aku ingat sekali lirik (ingat liriknya, tapi bukan arti liriknya) dan nadanya bila suatu saat mendengarnya. Kalau tidak salah, aku juga sempat beli kasetnya. Taukah kenapa? Karena secara diam-diam aku suka pada Ivan. Juni 1991 aku meninggalkan Malang dan pindah ke Jakarta.

***

Dua tahun lalu aku dikejutkan oleh Ivan yang menemukanku via Friendster. Kutanya kabar.. ternyata selama dia melewati masa SMP sampai kuliah di Binus di Jakarta!! Dan kita saling tidak tahu! Sekarang dia sudah kembali ke Malang, dan sedang bekerja dalam bidang IT di Surabaya.

Desember 2004 akhirnya aku sempat bertemu dengan Ivan di salah satu resepsi perkawinan tanteku. Rambutnya lurus hitam gondrong.. hahaha.. Ketika itu dia sedang PDKT dengan seorang cewek.

Beberapa bulan yang lalu dia sempat intens menelponku dan curhat tentang cewek yang waktu itu. Cinta bertepuk sebelah tangan rupanya. Kugunakan saat itu untuk mengenang masa kelas 4 SD-ku.. Ternyata saat itu dia juga suka padaku, soalnya sejak kepergianku, dia kebingungan mencariku. Dia bilang, dia ingin sekali bertanya pada ayahku, tapi takut, karena terlihat galak, jadinya dia bertanya pada kakekku (rumahnya dekat denganku, keluarganya juga lumayan kenal dengan keluarga besarku).

Kita sempat bercanda apakah kita mau mencoba dekat lagi, tapi dia ada di Surabaya dan aku di Jakarta.. telpon-telponan pun tidak berlanjut lagi.. sampai sekarang.

Nov
08

Liburan 6 hari di Bali (part 1)

Pertama2 mohon maaf buat bos ku, karena aku kabur dari tanggung jawab bekerja selama Hari Raya Lebaran. Aku diajak keluargaku yang memang sudah berencana ke Bali untuk liburan kali ini. Masa aku ditinggal bekerja? Uuhh.. mana mau?? Melewatkan liburan di Bali, Kuta, sambil menikmati perang dengan ombak? Siapa yg nolak?? *grin*

Berangkat dari Malang tanggal 2 Nov naik mobil, aku yang nyetir. Sepanjang perjalanan melewati Pasuruan, Probolinggo sampai Pasir Putih kulewati dengan tenang sambil melancarkan mengemudi mobil dengan gigi manual (aku sudah terbiasa yang automatic), tidak lupa celoteh adik2ku yang rasanya tidak yakin bahwa aku bisa menyetir.. membuatku tersenyum saja. Perjalanan dari Pasir Putih, melewati hutan jati, hingga pelabuhan Ketapang, menyeberang Selat Bali ke Pelabuhan Gilimanuk, hingga Negara disetir oleh papaku. Nah, dari Negara, Tabanan, Denpasar hingga Kuta, sampai di hotel Jayakarta, aku lagi yang menyetir. Aww.. begitu toh rasanya menyetir antar kota.

Sesampainya di hotel, langsung bongkar tas, aku mengambil bikini-ku, adik2ku juga sudah siap dengan celana renangnya. Sudah tidak sabar, kita langsung lari ke pantai. Uuuhhhhh… KANGEN BERAT sama ombak!!! (emang dasar Cancer, tidak betah berlama2 jauh dari pantai). Sejam kita ber-perang melawan ombak, menyelam bila ada ombak datang, ataupun berjuang keras untuk tidak terseret ombak.

Hingga satu saat aku membelakangi ombak yang datang, jam tanganku, Swatch berwarna merah dan perak, terlepas dari tanganku.. hilang ditelan pekat buih-nya ombak, terbenam di bawah pasir Kuta (tepat di depan kafe Zanzibar, Kuta Bali). Aku sedih banget.. itu jam tangan kesayanganku sejak SMP. Aku masih keukeuh mencari dihamparan pasir yang susah dilihat oleh mata dan hanya mengandalkan pijakan kakiku saat aku masih panik. 10 menit sudah aku mencari sia-sia sambil berdoa. Tidak terasa air mataku menetes.. mengikhlaskan jam tanganku ditelan pasir Kuta yang kejam. Uuhh..

Jam Tangan Swatch ku yg hilang ditelan pasir Kuta Bali

to be continued..

Pages (3): « 1 [2] 3 »
free web site hit counter