Sanggupkah Aku - Ita Purnamasari (1991)
ada rindu di hatiku
kini sedang mengganggu
mengganggu lamunanku
hingga aku, ingin jumpa denganmu..
aku hampir tak percaya
menghadapi semua
semua kenyataan
yang terjadi, dan menyayat di hati
sanggupkah ku menghadapi
hidup ini tanpa dirimu
mengapa begitu cepat, engkau pergi
tinggalkan aku, sepertinya aku bermimpi
kini tinggalah kenangan
yang tak mungkin kulupa
dan doaku untukmu
smoga saja, kau disana, bahagia..
***
Lagu ini booming di awal tahun 1991. Yang kuingat, ada beberapa kakak kelas (setahun diatasku) yang ikut dalam mobil antar jemputku ke sekolah Santo Yusuf di Malang. Hanya ada 2 nama yang kuingat, Ivan dan Fredy. Fredy memang sempat melantunkan lagu ini yang langsung di serbu dengan caci maki lelucon oleh Ivan dan teman-temannya sebagai lagu cengeng. Setelah itu, mereka sempat membahas lagu yang baru keluar ini, yang lalu kuingat-ingat liriknya..
kini tinggalah kenangan
yang tak mungkin kulupa
dan doaku untukmu
smoga saja, kau disana, bahagia..
Aku ingat sekali lirik (ingat liriknya, tapi bukan arti liriknya) dan nadanya bila suatu saat mendengarnya. Kalau tidak salah, aku juga sempat beli kasetnya. Taukah kenapa? Karena secara diam-diam aku suka pada Ivan. Juni 1991 aku meninggalkan Malang dan pindah ke Jakarta.
***
Dua tahun lalu aku dikejutkan oleh Ivan yang menemukanku via Friendster. Kutanya kabar.. ternyata selama dia melewati masa SMP sampai kuliah di Binus di Jakarta!! Dan kita saling tidak tahu! Sekarang dia sudah kembali ke Malang, dan sedang bekerja dalam bidang IT di Surabaya.
Desember 2004 akhirnya aku sempat bertemu dengan Ivan di salah satu resepsi perkawinan tanteku. Rambutnya lurus hitam gondrong.. hahaha.. Ketika itu dia sedang PDKT dengan seorang cewek.
Beberapa bulan yang lalu dia sempat intens menelponku dan curhat tentang cewek yang waktu itu. Cinta bertepuk sebelah tangan rupanya. Kugunakan saat itu untuk mengenang masa kelas 4 SD-ku.. Ternyata saat itu dia juga suka padaku, soalnya sejak kepergianku, dia kebingungan mencariku. Dia bilang, dia ingin sekali bertanya pada ayahku, tapi takut, karena terlihat galak, jadinya dia bertanya pada kakekku (rumahnya dekat denganku, keluarganya juga lumayan kenal dengan keluarga besarku).
Kita sempat bercanda apakah kita mau mencoba dekat lagi, tapi dia ada di Surabaya dan aku di Jakarta.. telpon-telponan pun tidak berlanjut lagi.. sampai sekarang.

