Semalam Darcie terlihat sakit saat aku baru pulang dari kerja. Matanya merah, hidungnya juga, badannya kurus kering kerontang. Saat kubelai, Darcie hanya mengeluh kecil. Tidak seperti kucing biasanya. Aku panik. Kubawa Darcie ke Vet.
Cerita punya cerita, rupanya minggu lalu Darcie ke-gap sedang makan tikus. Ih.. jorok gitu loww.. dan beberapa hari yang lalu sempet muntah-muntah. Ketika diperiksa sama dokter, kemungkinan yang ada adalah terinfeksi bakteri Leptospirosis atau termakan racun tikus. Semua sumbernya gara-gara menu Darcie minggu lalu. Darcie diberi resep amoxilin dan curcuma plus untuk vitamin supaya agak chubby* dikit.
Malamnya, sang supirnya mamah, Pak Yusuf, disuruh ke apotik untuk menebus resep. Tunggu punya tunggu..
“Sudarsi.. Sudarsi” kata mbak apoteker.
Pak Yusuf mah tenang-tenang aja, sambil ngantuk dan memilin kumis tebalnya.
“Sudarsi.. pasien Sudarsi” kata mbak apoteker lagi, sambil melototin Pak Yusuf.
Pak Yusuf jadi salah tingkah, dalam hati: ‘Rasanya di rumah ibu ngga ada yang namanya Sudarsi koq, adanya Golda, Tibi, eh.. ?!’
“Mbak, obat nya buat hewan ya?” gelagapan Pak Yusuf maju ke si mbak apotekernya.
Sejak kapan Darcie berubah namanya jadi Sudarsi?? Rupanya cekikikan dari cerita mbakku yang membahana inilah yang membangunkan aku pagi ini.
* chubby = calon babi?
