9olda.net
Apr
12

Second Day

Hari ini hari kedua setelah aku resmi menjadi jomblo (oh no.. I hate this word). Aku kembali kerja seperti biasa, sudah bisa menjalani hari-hariku. Hatiku sedang dalam proses penyembuhan. Aku sudah bisa menghadapi dunia lagi, tidak terpuruk seperti kemarin malam.

Iya, kemarin malam aku sempet stress seperti orang gila. Ngga nafsu makan, air mata mengalir, resah, nelpon-nelponin tanteku untuk curhat. Totally kemarin tuh ngga sarapan, lunch hanya 3 suap, malamnya hanya makan 1 potong sushi maki (kira-kira 2 suap lah). Itupun ngga bisa diteruskan lagi, kalo tidak aku bisa muntah. Aku capek, jadi langsung tidur.

Pagi ini perasaanku aneh. Tidak lagi grieving, tapi seperti ngga punya perasaan. Tidak beremosi. Datar. Tidak dipungkiri bahwa dirinya masih terus berseliweran dipikiranku, tapi come and go, tidak konstan. Rupanya inilah tahap dari masa-masa sehabis putus. Hari ini belum juga sarapan. Sebentar lagi jam lunch, juga belum bernafsu makan. Pelan-pelan lambungku mulai demonstrasi. Tapi aku diamkan. Aku takut muntah. Mesti pelan-pelan makannya.

Mulai kembali kerja, aku pasang lagu-lagu lama. Beberapa lagu mp3 yang bagiku mengingatkan masa-masa 4-5 tahun lalu. Saat aku sering berlibur ke Zenta. Susana di Zenta tidak pernah membuatku terpuruk. Tidak seperti di Jakarta, dimana semua break-up terjadi di Jakarta. Zenta akan masih menjadi masa menyenangkan untuk dinikmati.

Zenta itu kota kecil. Lebih kecil dari Malang. Populasinya juga sedikit. Hanya terdapat 1 pasar/market dan 1 pom bensin. Kota ini sudah lebih dari 20 tahun tidak berkembang. Mungkin karena pemerintahan Yugoslavia yang masih belum berjalan normal. Zenta akan tetap menjadi tempat tenang bagiku.

Setiap hari dimusim panas, bangun jam 11 siang, langsung makan siang bertiga bersama kakek dan nenek. Sesudah itu mereka tidur siang, aku naik sepeda menuju kolam renang. Satu-satunya kolam renang di kota Zenta, dan dipenuhi anak muda, anak kecil dengan keluarganya, dll.

Perjalanan ke kolam renang melewati alun-alun kota yang sangat dekat dengan rumahku. Lalu ada jalan turunan yang melewati rel kereta api. Di sisi kiri terdapat taman kota yang mirip hutan saking lebatnya. Tapi dibalik lebatnya terdapat lapangan basket, ada 1 penginapan tertua, tempat camping, tanah kosong yang luas, dll. Di sisi kanan terdapat dam. Bentuknya tanah yang ditimbun sampai setinggi 100 M (kalo ngga salah) dan sisi kiri kanannya landai ke bawah. Dipuncaknya, terdapat jalan yang hanya selebar untuk 1 mobil. Jalan di atas dam ini tidak untuk mobil tapi untuk sepeda. Kadang aku lewat atas dam karena tempatnya tinggi dan bisa melihat sekitar dengan matahari yang tidak terik, angin yang segar, dan wangi pepohonan pinus di seberangnya.

Kegiatan ke kolam renang setiap hari sudah menjadi kebiasaan anak muda disana. Kalau saat aku umur 14-an, banyak cowok-cowok ganteng berumur 20-an yang sedap dijadikan pemandangan. Sekarang, cowok-cowok ganteng yang seumuranku (20-an) lah yang menjadi teman-temanku. Banyak yang ngajak kenalan, banyak yang tertarik untuk kenal denganku. Lho.. aku satu-satunya yang berwajah asia di sana. Malah dikira aku dari Filipina. Hahaha…

Tapi rata-rata mereka kenal dengan keluargaku. Kakek nenekku orang lama di Zenta. Orangtua teman-teman ku pasti kenal dengan mereka. Meski percakapan kita tidak begitu lancar, tapi kita menikmati candaan, cerita lucu dan permainan lainnya. Biasanya kita main voli pantai di sebelah kolam, kadang berjemur sambil ngobrol dan ngemil pancake (khas Zenta). Kalau kepanasan ya tinggal lari ke pinggir kolam dan loncat ke dalamnya. Seru! Aku dan cowok-cowok itu suka main lempar bola voli di kolam yang dalam. Atau main perang-perangan sambil naik di bahu temannya di kolam yang tidak dalam. Yang paling aku suka adalah berdiri di pinggir kolam, pegangan tangan beramai-ramai, berusaha menjatuhkan teman kiri/kanannya ke dalam kolam. Wuah, kalau sudah itu, sampai teman-teman yang dibelakang kadang ikutan curang menjatuhkan kami semua.

Semua ini mengingatkan aku akan memori menyenangkan. Bahwa aku tidak sendiri. Bahwa hidupku tidak berhenti karena kejadian kemarin. Bahwa masih ada teman-temanku somewhere out there. Teman lama, teman baru.

Mengingatkan aku akan jam lunch sebentar lagi.. hmm makan apa ya?

Apr
11

Growing Pain

Hidup ini penuh dengan yang namanya pelajaran. Salah satu pelajaran yang aku terima weekend ini, akan ku ceritakan. As always, setiap kejadian mesti ada hikmahnya. Tapi kita hanya manusia. Tidak bisa menjadi perfect, meski tetap berusaha menjadi yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Bagaimana ya memulainya? Not as easy as I think.

Being in relationship, aku belajar banyak. Belajar mengenal pribadinya, kesukaannya, kebiasaannya, sifat-sifatnya, cerita-ceritanya. Hubungan kami penuh dengan kata-kata. Apapun kami bicarakan. Apapun kami sampaikan. Ia tahu semua tentang aku. Aku ingin dia mengerti aku, menerima aku apa adanya.

Dia memang soulmate ku. Sejak pertama sudah kurasakan. Ia juga merasakan hal yang sama. Semuanya kita cocok, semuanya bisa kita lewati. Banyak yang dia mengerti tentang aku. Banyak juga aku mengerti tentang dia. Hanya ada satu hal yang melekat dalam dirinya (maaf, ini confidential) yang tenyata membubarkan kami. Kami saling cinta, saling sayang.

(maaf, ambil tissue dulu, air mataku ngga berhenti mengalir).. emang dasar cancer, kalo ‘hati’ sudah luka, pasti daleem.

Kemarin sore kita memutuskan untuk berpisah. Berat.. sangat berat. Berat bagiku, berat baginya. Kita berpelukan. Kita menangis.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan mendatang. Satu hal yang aku tahu bahwa aku sudah menemukan soulmateku, tanpa bisa memilikinya.

So, pelajaran apa yang bisa aku ambil? Aku jadi lebih sabar, lebih dewasa lagi (growing up is infinity). Temanku bilang, “growing pain”. Pas aku tanya maksudnya, dia bilang “karena pada saat merasa menderita.. lo sebenernya tumbuh..”.

Pages (4): « 1 [2] 3 4 »
free web site hit counter