9olda.net
Apr
20

Bosan Aku

Sejak kemarin aku mengeluh, AKU BOSAAANNN!!!

Aku bosan dengan ritualku, tiap pagi berangkat kantor di jam yang sama, jalan yang sama, macet yang sama. Aku bosan duduk di kantor yang ini ini juga, sepi, kerjaan yang sama, suasana yang sama.

Aku bosan dengan rumahku yang bentuknya seperti ituuuu terus (??!!) hehehe. Gara-garanya rumahku interior lama, sedangkan tetanggaku malah baru merenovasi rumahnya jadi lebih kontemporer + minimalis. Tidak jauh dari rumahku, ada rumah lama yang sekarang sedang dibongkar dan mulai direnovasi interiornya. Dari pagarnya saja udah kelihatan minimalis. Apalagi dalamnya.

Aku bosan dengan keadaanku yang kuliah belum selesai, kerja magang, sambil bikin laporan magang dan skripsi, sambil kerja. Aku ingin kerja ditempat lain, di kota lain, di negara lain. Aku ingin keluar dari rumah. Aku ingin punya rumah sendiri. Aku ingin pekerjaan yang lain.

Aku bosan dengan isi kamarku. Aku memang pengumpul barang. Semua barangku ada di kamarku. Sumpek. Bukan menjadi kamar tidur lagi, tapi menjadi ‘rumah kecilku’. Aku bosan dengan lemari-lemari yang penuh baju dan segala macamnya, laci-laci yang penuh kertas dan buku.. sumpeekkk!!! Hari minggu aku sempet nonton acara kamar gue yang isinya mirip dengan bedah rumah. Aku pengen merubah kamarku, tapi ngga mau keluar uang lagi.

Tahun lalu, Junjun bilang bahwa aku cepat bosan. Ah masa? Aku ngga menyadari. Tapi sekarang aku merasakan bahwa aku bosan. Tapi aku ngga mau digeneralisasi bahwa aku cepat bosan orangnya. Tidak semuanya aku bosan koq. Hey, aku belum bosan blogging kan? (Tapi udah bosen sama leyot nya, wekss).

Tadi pagi, aku bangun jam 5, melihat kamarku, makin sumpek. Aku bangunin mbakku (maaf ya mbak) minta bantuan tenaga, aku mau relokasi isi kamarku. Tempat tidur geser, meja sebelah tempat tidur ganti sisi, lemari buku jadi nempel sama tempat tidur, meja komputer pindah posisi, lemari baju pindah tempat, gitar juga pindah tempat. Hanya meja rias yang ngga bisa pindah, karena kacanya sudah nempel sama tembok.

Isi dari lemari mulai dibongkar. Buku-buku ditata lagi berdasarkan besarnya. Buku-buku kuliah dimasukin ke kerdus. Kertas-kertas disortir untuk dibuang yang tidak perlu. Ternyata banyak juga yang aku buang (??!!). Tidak terasa sudah jam 9!! Waaa.. aku kan masuk kerja jam 9!

Apr
18

081 Sekian Sekian Sekian

Semalam aku bermimpi tentang nomor hape ku tersayang. Tidak begitu persis gimana cerita mimpinya, tapi membuatku bangun dan memikirkan tentang nasib nomer ini. Lho, mimpi koq tentang nomor hape. Begini ceritanya..

Sekitar Maret 1999, mamaku pulang membawa 1 tas hasil beli sesuatu di toko. Biasa laah, aku datang dan langsung ngintip barang beliannya, kali aja buat aku. Aku menemukan 1 kotak perdana bergambar matahari bersinar yang saat itu harganya seratusribuan. Wah!!

Awal pemakaian, voucher seratusribu perbulan pun cukup. Apalagi layanan sms pun belum ada. Kalaupun ada, masih terbatas dengan sesama provider.

Memasuki masa kuliah, disarankan untuk mengganti nomorku yang masih prepaid menjadi postpaid. Hitung-hitung sih jadi lebih murah. Datanglah aku ke gedung Artha Graha untuk apply upgrade. Memakai postpaid membuat aku lebih dewasa dalam mengatur pemakaian, juga memudahkanku untuk mempunyai akses menelpon kapan pun tanpa memikirkan sisa pulsa yang ada.

Layanan dari provider ini sudah menemani aku ke ber-roaming-internasional-ria saat perjalanan ke Yugo. Biayanya, aduh mak! Jangan ditanya. Kapok! Padahal sudah mewanti-wanti diri sendiri.

Sampai Lebaran tahun 2004, provider ini sedang mengupgrade layanannya untuk merger dengan dia. Akibatnya, pengiriman sms di hapeku bermasalah (sering tidak terkirim & susah menerima) meskipun untuk cuap-cuap masih bisa. Kata temanku yang kerja di sini, masalah ini akan berakhir bulan Febuari.

Tidak tahan, aku selingkuh. Aku beli nomor perdana lain, dengan berharap mendapat tarif yang lebih murah dari prepaid provider lainnya. Khususnya untuk sms. Sudah dua bulan lebih, aku kangen dengan nomor lamaku, yang telah menemani aku selama 6 tahun.

Maafkan aku telah selingkuh dengan partner merger mu, meskipun sekarang kalian dibawah satu bendera. Aku merasa bersalah. Mulai minggu depan aku akan menggunakan mu lagi. Berikan aku kesempatan untuk menjadi pelanggan terbaikmu.

Pages (4): [1] 2 3 » ... Last »
free web site hit counter